Internationalmedia.co.id – News – Gejolak di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah sebuah kapal perang Iran, IRIS Dena, dilaporkan karam di lepas pantai Sri Lanka pada Rabu (4/3) waktu setempat. Insiden tragis ini, yang diduga kuat akibat serangan torpedo dari kapal selam Amerika Serikat (AS), menewaskan sedikitnya 87 prajurit Iran dan menyebabkan puluhan lainnya dinyatakan hilang. Teheran segera melayangkan protes keras, memperingatkan bahwa Washington akan "sangat menyesali" konsekuensi dari tindakan agresif ini, di tengah meluasnya konflik yang dipicu serangkaian serangan gabungan AS dan Israel.
Kapal IRIS Dena menjadi sasaran serangan di perairan Samudra Hindia yang kini memanas. Selain 87 prajurit yang gugur, 61 personel lainnya masih dalam pencarian. Angkatan Laut Sri Lanka berhasil menyelamatkan 32 tentara Iran, sebagian besar dalam kondisi terluka, menyoroti kerentanan navigasi di tengah ketegangan regional.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan tegas menuduh AS melakukan kekejaman dengan menargetkan kapal Angkatan Laut Iran di perairan internasional tanpa peringatan. Ia menekankan bahwa tindakan AS ini menciptakan preseden berbahaya yang dapat memperburuk situasi keamanan global.
Tenggelamnya IRIS Dena menjadi babak baru dalam eskalasi konflik di Timur Tengah, yang telah memanas sejak akhir pekan lalu. Serangan gabungan AS dan Israel secara terus-menerus menghantam berbagai wilayah di Iran, memicu kekhawatiran akan perang skala penuh.
Korban Tewas di Iran Terus Bertambah Akibat Serangan AS-Israel
Jumlah korban tewas akibat gelombang serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran terus meningkat tajam. Otoritas Teheran melaporkan bahwa lebih dari 800 orang telah kehilangan nyawa akibat pengeboman yang dilancarkan Washington dan Tel Aviv sejak Sabtu (28/2). Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, seperti dilansir Anadolu Agency pada Kamis (5/3/2026), menyebut bahwa total korban tewas telah mencapai sedikitnya 867 orang. Ribuan lainnya menderita luka-luka akibat rentetan serangan yang menghantam berbagai wilayah Iran, menambah daftar panjang penderitaan sipil.
Turki Protes Keras Rudal Iran yang Mengarah ke Wilayahnya
Konflik yang meluas ini juga memicu reaksi dari negara tetangga. Otoritas Turki memanggil Duta Besar Iran untuk menyampaikan protes keras atas insiden rudal dari Teheran yang terdeteksi mengarah ke wilayah udara Turki. Amunisi balistik tersebut, menurut laporan Kementerian Pertahanan Nasional Turki, berhasil dicegat dan dinetralkan oleh unit pertahanan udara dan rudal NATO yang ditempatkan di Mediterania Timur. Sebagai anggota NATO, Ankara mendesak Teheran untuk menghindari perluasan konflik, mengingat Iran terlibat pertempuran sengit dengan AS dan Israel, serta melancarkan serangan balasan terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Qatar Tolak Klaim Iran Soal Target Serangan Hanya untuk AS
Di tengah ketegangan, diplomasi juga memanas. Otoritas Qatar menolak klaim Iran yang menyatakan bahwa serangannya di negara Teluk tersebut hanya ditujukan pada target-target Amerika Serikat (AS), bukan Doha. Perdebatan ini, seperti dilansir Al Arabiya pada Kamis (5/3/2026), terjadi dalam percakapan telepon antara Perdana Menteri (PM) sekaligus Menteri Luar Negeri (Menlu) Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, dengan Menlu Iran Abbas Araghchi pada Rabu (4/3) waktu setempat. Araghchi, menurut laporan kantor berita Qatar, mengulangi klaim Iran tersebut, namun Sheikh Mohammed dengan tegas membantah, menegaskan bahwa sejumlah serangan Iran telah menghantam area sipil dan permukiman di Qatar.
Situasi di Timur Tengah semakin tidak menentu, dengan berbagai insiden yang mengindikasikan eskalasi konflik yang berpotensi lebih besar, menarik perhatian dunia terhadap setiap perkembangan.

