Internationalmedia.co.id – News – Riyadh kembali diguncang serangan drone yang menargetkan sejumlah wilayah vital, termasuk ladang minyak strategis, pada Senin (9/3). Insiden ini memicu kecaman keras dari Pemerintah Arab Saudi, yang sebelumnya telah menyuarakan keprihatinan atas klaim Iran bahwa mereka hanya menargetkan aset Amerika Serikat di kawasan. Riyadh bahkan telah mengeluarkan peringatan tegas, menyebut Teheran sebagai "pihak yang paling dirugikan" jika eskalasi terus berlanjut.
Kementerian Pertahanan Saudi, melalui laporan yang dikutip internationalmedia.co.id dari Al Arabiya, Selasa (10/3), mengonfirmasi bahwa setidaknya sembilan unit drone berhasil dicegat. Drone-drone tersebut terdeteksi terbang menuju ladang minyak Shaybah yang terletak di Empty Quarter, atau dikenal juga sebagai Gurun Rub al Khali.

Serangan ini bukan yang pertama kali. Sehari sebelumnya, ladang minyak Shaybah juga menjadi sasaran setidaknya lima drone, yang beruntungnya berhasil dilumpuhkan sebelum mencapai target. Selain itu, sebuah drone dilaporkan jatuh di dekat wilayah Al-Jawf. Sementara itu, tiga rudal balistik berhasil ditembak jatuh saat mengarah ke Pangkalan Udara Pangeran Sultan. Yang lebih mengkhawatirkan, sebuah kompleks perumahan di Al-Kharj turut menjadi sasaran, mengakibatkan dua pekerja asing tewas dan 12 karyawan perusahaan pemeliharaan mengalami luka-luka.
Teheran menyatakan gelombang serangan rudal dan drone ini merupakan respons balasan terhadap pengeboman yang dilakukan oleh Washington dan Israel sejak 28 Februari lalu. Iran mengklaim targetnya adalah negara-negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat.
Pada Minggu (8/3) malam, Riyadh telah melayangkan peringatan keras kepada Iran. Kementerian Luar Negeri Saudi menegaskan bahwa serangan berkelanjutan ini "menandakan peningkatan eskalasi lebih lanjut" yang akan berdampak serius pada hubungan bilateral, baik saat ini maupun di masa depan. "Kami menegaskan bahwa tindakan Iran saat ini terhadap negara-negara kami tidak mencerminkan kebijaksanaan atau kepentingan untuk menghindari perluasan siklus eskalasi, di mana Iran akan menjadi pihak yang paling dirugikan," demikian bunyi pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Saudi.
Lebih lanjut, Riyadh menyoroti serangan terhadap area sipil, termasuk bandara dan fasilitas minyak, sebagai tindakan yang "tidak mengindikasikan apa pun selain tekad untuk mengancam keamanan dan stabilitas." Mereka mengecamnya sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap piagam internasional dan hukum internasional."

