Internationalmedia.co.id – News mengabarkan, ratusan personel pasukan operasi khusus Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mendarat di kawasan Timur Tengah. Kedatangan mereka menandai eskalasi signifikan di tengah ketegangan yang memuncak antara AS dan sekutunya, Israel, menghadapi Republik Islam Iran.
Mengutip laporan media terkemuka AS, New York Times, yang juga disiarkan oleh Anadolu Agency pada Senin (30/3/2026), kehadiran ratusan personel elite, termasuk dari unit Army Rangers dan Navy SEALs, bertujuan untuk memperkuat kapabilitas militer Washington di kawasan tersebut.

Meskipun misi spesifik belum diumumkan, laporan tersebut mengindikasikan bahwa unit-unit komando ini dapat dikerahkan di beberapa titik strategis. Target potensial mencakup Selat Hormuz yang vital, situs nuklir Isfahan, hingga perebutan Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak utama Iran.
Kehadiran militer AS di Timur Tengah kini melampaui 50.000 personel, sekitar 10.000 lebih banyak dari jumlah normal. Peningkatan ini mencakup penempatan 5.000 marinir dan pelaut baru-baru ini, serta pengerahan 2.000 tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 yang kini berada dalam jarak serang Republik Islam Iran. Lokasi pasti pasukan lintas udara ini masih dirahasiakan, namun diisyaratkan dapat mendukung operasi darat bersama marinir.
Konflik ini telah ditandai dengan serangan udara berkelanjutan oleh AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari, yang telah merenggut nyawa lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei. Penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan gangguan parah pada aliran minyak global, mengingat sekitar 20 juta barel minyak biasanya melewati jalur air strategis tersebut setiap hari.
Di tengah situasi yang kian memanas, Presiden AS Donald Trump secara tegas mengancam akan menghancurkan pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg, sumur-sumur minyak, dan pembangkit listrik negara itu. Ancaman tersebut dilontarkan jika Iran tidak segera menyepakati perjanjian untuk mengakhiri konflik.
"Kemajuan signifikan telah dicapai, namun, jika karena alasan apa pun kesepakatan tidak segera tercapai, dan jika Selat Hormuz tidak segera ‘Dibuka untuk Bisnis,’ kami akan mengakhiri ‘kunjungan’ kami yang menyenangkan di Iran dengan meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya semua Pembangkit Listrik, Sumur Minyak, dan Pulau Kharg mereka (dan mungkin semua pabrik desalinasi!), yang sengaja belum kami ‘sentuh’," demikian pernyataan Trump, seperti dilansir AFP pada Senin (30/3).

