Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya hari ini, Senin (16/3/2026), dengan serangkaian peristiwa yang mengancam stabilitas global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan tajam kepada NATO, menyatakan bahwa masa depan aliansi militer tersebut berada di ambang kehancuran jika negara-negara sekutu enggan membantu pembukaan kembali Selat Hormuz yang terblokade oleh Iran. Penutupan jalur vital pengiriman minyak ini telah memicu lonjakan harga minyak dunia secara signifikan. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, pernyataan Trump ini muncul di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Arab Saudi, dan dugaan serangan terhadap putra pemimpin tertinggi Iran.
Dalam wawancara eksklusif dengan The Financial Times (FT), Trump secara eksplisit mengutarakan harapannya agar negara-negara Eropa memberikan dukungan penuh di Selat Hormuz. Ia membandingkan situasi ini dengan bantuan AS kepada Ukraina dalam konflik melawan Rusia, menekankan bahwa jika tidak ada respons positif, hal itu akan berdampak sangat buruk bagi masa depan NATO. Selama bertahun-tahun, Trump memang dikenal sering mengkritik aliansi tersebut karena dianggap terlalu bergantung pada kemurahan hati Amerika Serikat.

Di sisi lain, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merespons dengan mengeluarkan peringatan tegas, mendeklarasikan seluruh pusat logistik dan layanan yang mendukung kapal induk Amerika Serikat (AS) terbesar, USS Gerald R Ford, sebagai target militer yang sah. Kehadiran kapal induk bertenaga nuklir tersebut di Laut Merah, khususnya di pelabuhan Jeddah, Arab Saudi, dianggap Iran sebagai ancaman langsung. Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, seperti dilansir Press TV, menegaskan posisi Teheran terkait keberadaan kapal induk tersebut.
Situasi keamanan di kawasan juga diperparah dengan insiden di Arab Saudi. Kementerian Pertahanan Saudi mengumumkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat lebih dari 60 drone yang diluncurkan ke wilayahnya sepanjang malam. Puluhan drone tersebut berhasil dihancurkan di ibu kota Riyadh dan Eastern Region, dengan 34 di antaranya dicegat dalam kurun waktu dua jam pada Minggu (15/3). Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan di Semenanjung Arab.
Dalam perkembangan lain yang memicu spekulasi, Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Iran yang baru, dilaporkan telah dievakuasi secara rahasia ke Rusia. Ia disebut-sebut menjalani operasi kaki vital di istana kepresidenan Presiden Vladimir Putin setelah mengalami luka-luka serius akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Di tengah proses pemulihan, Mojtaba dikabarkan melontarkan tuntutan balas dendam terhadap AS dan Israel, menambah dimensi pribadi dalam konflik yang memanas.
Sebagai respons atas serangan yang disebutkan, Angkatan Bersenjata Iran juga meluncurkan sejumlah rudal canggih. Salah satunya adalah rudal Sejjil, yang menandai penggunaan pertamanya dalam perang yang telah berkecamuk sejak akhir Februari. Rudal Sejjil, yang menggunakan bahan bakar padat, dikenal sulit dideteksi dan dicegat di udara, memberikan Iran kemampuan serangan yang lebih sulit diantisipasi.

