Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah serangkaian serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, Israel, terhadap wilayah Iran. Di tengah pusaran ketegangan yang kian mendalam ini, sebuah laporan intelijen mengejutkan muncul ke permukaan. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa Rusia diduga kuat telah memberikan informasi intelijen krusial kepada Iran, yang berpotensi digunakan Teheran untuk melancarkan serangan terhadap aset-aset militer AS di kawasan tersebut.
Menurut laporan yang diungkap oleh Euronews dan The Washington Post, dua pejabat AS yang mengetahui detail intelijen tersebut, dan berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas informasi, menyatakan bahwa data intelijen dari Rusia dapat membantu Iran menargetkan kapal perang, pesawat, serta berbagai aset militer AS lainnya di Timur Tengah. Kendati demikian, laporan tersebut juga menekankan bahwa intelijen AS belum menemukan bukti konkret yang menunjukkan Moskow secara langsung mengarahkan Iran mengenai cara memanfaatkan informasi tersebut dalam konflik yang sedang berlangsung. Jika klaim ini terbukti benar, hal ini akan menandai indikasi pertama keterlibatan tidak langsung Rusia dalam perang yang pecah pasca-serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran.

Menanggapi isu sensitif ini, Kremlin, melalui juru bicaranya Dmitry Peskov, menegaskan bahwa Rusia tidak memasok persenjataan kepada sekutu dekatnya, Iran. Seperti dilansir TASS dan Reuters, Peskov menyatakan bahwa Iran sejauh ini belum mengajukan permintaan bantuan militer apa pun, termasuk pasokan senjata. "Mengenai situasi saat ini, belum ada permintaan dari Iran," kata Peskov, seraya menegaskan bahwa posisi konsisten Rusia dalam isu ini tetap tidak berubah.
Hubungan antara Rusia dan Iran memang telah lama terjalin erat. Moskow sebelumnya telah mengutuk keras serangan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran, menyebutnya sebagai tindakan agresi bersenjata yang tidak beralasan. Kedua negara juga memiliki perjanjian kemitraan strategis yang mencakup kerja sama dalam menghadapi ancaman bersama. Namun, penting untuk dicatat bahwa perjanjian ini tidak mencakup kewajiban pertahanan bersama, berbeda dengan pakta keamanan yang dimiliki Rusia dengan Korea Utara.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga telah menegaskan bahwa kerja sama militer antara Iran dan Rusia bukanlah hal yang baru atau rahasia. "Kerja sama militer antara Iran dan Rusia bukanlah rahasia. Kami telah bekerja sama di masa lalu, dan kerja sama ini berlanjut, dan saya berharap akan berlanjut di masa depan," ujar Araghchi dalam sebuah wawancara dengan NBC News. Laporan intelijen ini, jika dikonfirmasi, tentu akan menambah kompleksitas pada dinamika konflik di Timur Tengah, menyoroti jaringan aliansi dan kepentingan yang saling terkait, serta potensi eskalasi yang lebih luas di kawasan tersebut.

