Sebuah tuduhan mengejutkan mengguncang lanskap geopolitik Timur Tengah. Teheran secara terang-terangan menuding Israel sebagai arsitek di balik serangan terhadap fasilitas minyak raksasa Aramco di Arab Saudi pada Senin (2/3) pagi waktu setempat. Menurut Internationalmedia.co.id – News, Iran mengklaim insiden ini adalah operasi "bendera palsu" yang dirancang oleh Tel Aviv.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan tuduhan ini, mengutip sumber militer yang memiliki pemahaman mendalam tentang situasi tersebut. Sumber tersebut secara tegas menyatakan bahwa insiden di Aramco merupakan "operasi bendera palsu" atau false flag operation yang didalangi Israel. Istilah ini merujuk pada tindakan rahasia yang dirancang untuk menyalahkan pihak lain. Tujuan utama Israel, menurut sumber intelijen tersebut, adalah untuk mengalihkan perhatian komunitas regional dari serangkaian serangan yang mereka lakukan terhadap situs-situs sipil di Iran.

Tuduhan ini muncul di tengah eskalasi ketegangan regional, di mana Iran telah melancarkan serangan balasan terhadap negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer Amerika Serikat. Aksi balasan ini menyusul gelombang serangan yang dikaitkan dengan Washington dan Tel Aviv sejak Sabtu (28/2). Sumber militer Iran menegaskan bahwa Teheran telah mengumumkan secara terbuka niatnya untuk menargetkan kepentingan, instalasi, dan fasilitas Amerika serta Israel di seluruh kawasan. Namun, sumber tersebut secara eksplisit menyatakan bahwa fasilitas Aramco tidak pernah menjadi bagian dari daftar target Iran.
Lebih jauh, sumber militer yang sama mengungkapkan adanya informasi intelijen yang mengindikasikan target "operasi bendera palsu" Israel berikutnya. Pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA), sebuah pusat maritim vital, disebut-sebut menjadi sasaran potensial berikutnya dari rezim tersebut dalam upaya serupa.
Tuduhan serius dari Iran ini mencuat setelah Arab Saudi, pada hari yang sama Senin (2/3), melaporkan keberhasilan mencegat dua drone yang menargetkan kilang minyak raksasa Ras Tanura di wilayah timur negara itu. Juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi, Turki al-Maliki, mengonfirmasi bahwa puing-puing dari drone yang berhasil dicegat menyebabkan kebakaran "kecil" namun tidak menimbulkan korban luka pada warga sipil. Ras Tanura dikenal sebagai salah satu fasilitas penyulingan dan ekspor minyak terbesar di dunia. Akibat insiden ini, Saudi Aramco, pengelola kilang tersebut, memutuskan untuk menutup sementara operasionalnya.
Situasi ini menambah lapisan kompleksitas pada ketegangan yang sudah memanas di Timur Tengah, dengan tuduhan serius yang berpotensi mengubah dinamika konflik regional.

