Rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menaikkan tarif global menjadi 15%, hanya sehari setelah mengumumkan 10%, telah memicu gelombang kekhawatiran di kancah internasional. Menyikapi hal ini, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menyerukan perlakuan setara bagi semua negara. Internationalmedia.co.id – News melaporkan dari New Delhi, India.
Dalam pernyataannya kepada wartawan di New Delhi, Lula menegaskan sikap Brasil yang menolak keras potensi ‘Perang Dingin baru’ dan intervensi asing. "Kami tidak menginginkan Perang Dingin baru. Kami tidak menginginkan campur tangan di negara lain, kami ingin semua negara diperlakukan secara setara," tegas pemimpin sayap kiri veteran tersebut.

Kekhawatiran Lula muncul di tengah keputusan Mahkamah Agung AS yang mayoritas konservatif, yang baru-baru ini memutuskan bahwa undang-undang tahun 1977 yang diandalkan Trump untuk memberlakukan pungutan mendadak pada negara-negara tertentu, tidak memberikan wewenang kepada Presiden untuk memberlakukan tarif. Dengan suara enam banding tiga, Mahkamah Agung AS menilai tindakan tersebut berpotensi mengacaukan perdagangan global. Meski demikian, Lula menyatakan keengganannya untuk mengomentari keputusan yudisial negara lain, namun ia berharap hubungan Brasil dengan Amerika Serikat dapat "kembali normal" dalam waktu dekat.
Optimisme ini didasari oleh rencana kunjungan Lula ke Washington bulan depan untuk bertemu langsung dengan Trump. "Saya yakin hubungan Brasil-AS akan kembali normal setelah percakapan kita," ujarnya, menambahkan bahwa Brasil hanya ingin "hidup damai, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kehidupan rakyat kami."
Tanda-tanda membaiknya hubungan antara kedua negara memang mulai terlihat setelah berbulan-bulan permusuhan antara Washington dan Brasilia. Sebagai buah dari perbaikan ini, pemerintahan Trump sebelumnya telah mengecualikan ekspor utama Brasil dari tarif 40 persen yang sempat dikenakan pada negara Amerika Selatan itu tahun lalu.
Menutup pernyataannya, Lula menekankan pentingnya stabilitas global. "Dunia tidak membutuhkan lebih banyak gejolak, dunia membutuhkan perdamaian," pungkas Lula yang tiba di India pada hari Rabu untuk menghadiri KTT tentang kecerdasan buatan.

