Internationalmedia.co.id memberitakan memanasnya konflik perbatasan Thailand dan Kamboja. Seruan gencatan senjata dari Kamboja dibalas dingin oleh Thailand yang menuntut bukti keseriusan Phnom Penh. Pertempuran sengit yang melibatkan jet tempur, artileri, tank, dan pasukan darat masih terus berlanjut, menewaskan puluhan orang.
Sejak Kamis lalu, pertempuran di area Segitiga Zamrud—pertemuan perbatasan ketiga negara—makin intens. Kamboja melaporkan serangan artileri berat dari Thailand pada Sabtu pagi, sementara Thailand menyatakan pertempuran terjadi di Ban Chamrak. Kedua belah pihak saling tuding sebagai pihak yang memulai agresi.

Di tengah situasi mencekam ini, Duta Besar Kamboja untuk PBB, Chhea Keo, menyerukan gencatan senjata tanpa syarat. Namun, Menteri Luar Negeri Thailand, Maris Sangiampongsa, menyatakan bahwa Kamboja harus menunjukkan itikad baik nyata untuk mengakhiri konflik sebelum perundingan bisa dilakukan. Ia mendesak Kamboja menghentikan pelanggaran kedaulatan Thailand dan menyelesaikan masalah melalui dialog bilateral.
Korban jiwa terus bertambah. Data resmi menyebutkan sedikitnya 33 orang tewas, dengan Thailand melaporkan 20 korban (14 warga sipil dan 6 tentara) dan Kamboja melaporkan 13 korban (8 warga sipil dan 5 tentara). Lebih dari 70 orang lainnya mengalami luka-luka.
Thailand menegaskan komitmennya untuk melindungi kedaulatan negara dan warganya. Meskipun mengapresiasi usulan gencatan senjata dari Perdana Menteri Malaysia, Thailand menilai tindakan Kamboja sejauh ini menunjukkan kurangnya keseriusan dalam menyelesaikan konflik secara damai. Mereka menekankan bahwa setiap gencatan senjata harus didasarkan pada kondisi yang sesuai dengan situasi di lapangan, dengan keselamatan warga Thailand sebagai prioritas utama. Pertanyaannya, akankah gencatan senjata terwujud atau konflik akan semakin meluas?

