Paris – Internationalmedia.co.id – News – Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan kabar duka yang mengejutkan: seorang prajurit militer Prancis gugur dalam serangan di wilayah otonom Kurdistan Irak. Insiden tragis ini menandai korban jiwa pertama dari pasukan Prancis di tengah gejolak konflik yang semakin meluas di Timur Tengah.
Sejak serangan skala besar yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu, diikuti oleh balasan Teheran yang menargetkan pangkalan-pangkalan Washington di kawasan, dinamika konflik di Timur Tengah memang menunjukkan eskalasi yang signifikan. Irak, sebagai salah satu negara yang tidak dapat menghindari dampak gejolak ini, telah menjadi saksi beberapa serangan yang diduga terkait dengan faksi pro-Iran. Serangan-serangan tersebut kerap menargetkan pangkalan dan posisi pasukan asing yang tergabung dalam koalisi anti-jihadis internasional di Irak.

Melalui akun media sosial X, seperti dilansir AFP pada Jumat lalu, Macron menyatakan bahwa seorang anggota Angkatan Bersenjata Prancis "telah gugur demi Prancis selama serangan di wilayah Erbil, Irak." Ia juga menambahkan bahwa beberapa tentara Prancis lainnya mengalami luka-luka dalam insiden yang sama. Namun, pemimpin Prancis itu tidak merinci lebih lanjut mengenai identitas pelaku di balik serangan mematikan tersebut.
Sebelumnya, sebuah kelompok pro-Iran yang beroperasi di Irak, Ashab Alkahf, telah mengeluarkan peringatan keras. Mereka menyatakan bahwa kepentingan Prancis di Irak kini menjadi sasaran setelah kedatangan kapal induk Prancis di "area operasi Komando Pusat Amerika." Peringatan yang disampaikan melalui saluran Telegram milik Ashab Alkahf itu juga secara spesifik meminta "saudara-saudara kita dari pasukan keamanan" untuk menjauhi pangkalan-pangkalan yang mereka klaim menampung pasukan Prancis.
Hingga saat ini, belum ada pihak yang secara langsung mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Erbil tersebut. Militer Prancis sebelumnya mengonfirmasi bahwa serangkaian drone menghantam pangkalan tempat pasukannya tengah menjalani pelatihan kontra-terorisme bersama rekan-rekan militer Irak. Gubernur Erbil menambahkan bahwa serangan di wilayahnya melibatkan dua drone yang berhasil menghantam pangkalan di Mala Qara.
Sehari sebelum pengumuman kematian tersebut, militer Prancis melaporkan bahwa enam orang terluka akibat serangan itu. Tidak disebutkan secara pasti apakah prajurit yang gugur termasuk di antara korban luka yang diumumkan sebelumnya. Macron dengan tegas menyatakan, "Perang di Iran tidak dapat membenarkan serangan seperti itu," seraya menyebut insiden tersebut "tidak dapat diterima." Ia bersikeras menegaskan bahwa posisi negaranya dalam konflik di Timur Tengah adalah "murni defensif."

