Kementerian Pertahanan Inggris akhirnya mengklarifikasi misteri di balik serangan drone di pangkalan Angkatan Udara Kerajaan (RAF) Akrotiri di Siprus. Drone yang sebelumnya diidentifikasi sebagai ‘mirip Shahed’ buatan Iran itu, dipastikan tidak diluncurkan dari wilayah Iran. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa pengumuman ini memicu spekulasi baru mengenai dalang di balik insiden tersebut.
Pada dini hari Selasa, 3 Maret, sebuah drone canggih berhasil menembus pertahanan radar mutakhir RAF Akrotiri. Laporan dari Associated Press menyebutkan bahwa jet tempur Typhoon dan enam jet tempur F-35, yang merupakan salah satu jet tempur terkemuka di dunia, segera dikerahkan untuk mencegat dan menghancurkan target. Meskipun demikian, serangan itu dilaporkan hanya menyebabkan kerusakan terbatas pada sebuah hanggar pesawat di dekat landasan pacu di pangkalan tersebut.

Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan besar-besaran terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari, yang menewaskan ratusan orang dan memperparah ketegangan di kawasan. Konteks ini sempat menimbulkan dugaan kuat bahwa Iran adalah pihak yang bertanggung jawab atas serangan di Siprus.
Dalam pernyataan resminya yang dirilis pada Kamis, 5 Maret 2026, Kementerian Pertahanan Inggris, seperti dikutip The Wire, menegaskan kembali bahwa drone penyerang tidak berasal dari Iran. "Semalam, jet tempur RAF Typhoon dan F-35B melanjutkan operasi udara defensif di seluruh Timur Tengah dengan dukungan pengisian bahan bakar udara-ke-udara Voyager untuk membela kepentingan Inggris dan sekutu-sekutunya," kata Kementerian Pertahanan Inggris dalam pernyataan pada Rabu, 4 Maret. "Kementerian Pertahanan Inggris dapat mengonfirmasi bahwa drone mirip Shahed yang menargetkan RAF Akrotiri pada tengah malam, 2 Maret, tidak diluncurkan dari Iran," tegas pernyataan tersebut.
Pengumuman ini sontak membuka pintu bagi berbagai spekulasi, terutama mengenai kemungkinan bahwa drone tersebut diluncurkan dari Lebanon. Di Lebanon, Israel diketahui kembali terlibat dalam pertempuran sengit dengan kelompok Hizbullah, yang notabene didukung oleh Iran. Serangan drone di Siprus ini secara jelas menandai eskalasi dan perluasan lebih lanjut dari konflik antara AS-Israel melawan Iran, menyeret wilayah yang sebelumnya relatif aman ke dalam pusaran ketegangan.
Pemerintah Inggris sendiri bersikeras menyatakan bahwa serangan drone di pangkalan Siprus bukanlah konsekuensi dari keputusan Perdana Menteri Keir Starmer yang mengizinkan AS menggunakan pangkalan-pangkalan Inggris untuk operasi militer terhadap Iran. Klarifikasi ini diharapkan dapat meredakan spekulasi, namun sekaligus memunculkan pertanyaan baru tentang siapa sebenarnya yang berada di balik serangan misterius ini.

