Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran. Kali ini, targetnya adalah jantung ekspor minyak Iran, Pulau Kharg, beserta sumur-sumur minyak dan pembangkit listrik vital. Ancaman ini muncul sebagai ultimatum jika Teheran tidak segera menyepakati perjanjian damai untuk mengakhiri konflik.
Dilansir dari Internationalmedia.co.id – News pada Senin (30/3/2026), pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui platform Truth Social miliknya. Sehari setelah sempat terdengar lebih lunak dan mengisyaratkan kesepakatan bisa tercapai dalam waktu dekat, Trump kini menegaskan bahwa AS sedang dalam "diskusi serius" dengan apa yang ia sebut sebagai "rezim yang lebih masuk akal" di Teheran.

Namun, ia menambahkan peringatan tegas yang mengancam. "Kemajuan besar telah dicapai tetapi, jika karena alasan apa pun kesepakatan tidak segera tercapai, yang mungkin akan terjadi, dan jika Selat Hormuz tidak segera ‘Dibuka untuk Bisnis,’ kami akan mengakhiri ‘kunjungan’ kami yang menyenangkan di Iran dengan meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya semua Pembangkit Listrik, Sumur Minyak, dan Pulau Kharg mereka (dan mungkin semua pabrik desalinasi!), yang sengaja belum kami ‘sentuh’," kata Trump dalam unggahannya.
Ancaman ini kontras dengan nada yang lebih lunak yang sempat dilontarkan Trump sehari sebelumnya, Minggu (29/3). Saat itu, di hadapan wartawan di Air Force One, Trump mengklaim bahwa AS telah berhasil mencapai "perubahan rezim" di Iran melalui perang yang dilancarkan sebulan lalu dengan Israel. Ia bahkan menyebutkan jumlah pemimpin Iran yang telah tewas dan menggambarkan kepemimpinan baru sebagai "jauh lebih masuk akal."
"Kita berurusan dengan orang-orang yang berbeda dari siapa pun yang pernah berurusan sebelumnya. Ini adalah kelompok orang yang sama sekali berbeda. Jadi saya akan menganggap itu sebagai perubahan rezim," ujar Trump.
Meskipun ada ancaman yang menggelegar, Trump juga menyiratkan optimisme terhadap kemungkinan kesepakatan. Ketika ditanya apakah kesepakatan dengan Iran bisa tercapai minggu depan, ia menjawab, "Saya melihat adanya kesepakatan di Iran. Bisa jadi segera."

