Pentagon mengumumkan sebuah operasi militer signifikan yang menargetkan infrastruktur rudal Iran yang terkubur jauh di bawah tanah. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat (AS), Jenderal Dan Caine, dalam konferensi pers di Pentagon pada Selasa (10/3/2026), mengungkapkan bahwa militer AS telah menjatuhkan puluhan senjata penetrasi seberat 2.000 pon, atau setara 1 ton, ke lokasi peluncur rudal Iran. Pernyataan ini menegaskan fokus baru Pentagon untuk melumpuhkan target strategis yang terletak di bawah permukaan bumi.
Jenderal Caine merinci, "Pesawat pembom Komando Strategis baru-baru ini menjatuhkan puluhan senjata penetrasi GPS seberat 2.000 pon ke peluncur rudal yang terkubur jauh di sepanjang sayap selatan. Kami juga telah menyerang beberapa pabrik drone satu arah untuk menyerang jantung kemampuan otonom mereka." Ini menunjukkan strategi AS yang tidak hanya menyasar rudal, tetapi juga kemampuan produksi drone Iran yang semakin canggih.

Caine bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth sama-sama menekankan bahwa prioritas utama militer AS saat ini adalah menghancurkan kapasitas Iran untuk meluncurkan dan memproduksi rudal. Caine secara spesifik menyoroti penargetan basis industri militer Iran, termasuk fasilitas-fasilitas bawah tanah, sebagai bagian integral dari upaya ini.
Meskipun Jenderal Caine mengklaim adanya kemajuan signifikan dalam melumpuhkan kemampuan rudal Iran, pertanyaan besar masih menggantung mengenai bagaimana Pentagon berencana menangani ancaman utama lainnya: fasilitas nuklir bawah tanah negara itu, khususnya yang diduga menyimpan uranium yang sangat diperkaya.
Sebelumnya, internationalmedia.co.id melaporkan bahwa penghancuran persediaan uranium yang sangat diperkaya milik Iran tidak dapat dicapai hanya melalui kekuatan udara. Pemerintahan Trump, pada masanya, pernah membahas kemungkinan penggunaan pasukan darat untuk mengekstraksi material tersebut dari lokasi penyimpanan bawah tanahnya.
Beberapa pejabat, baik yang masih aktif maupun mantan, yang berbicara kepada internationalmedia.co.id, mengindikasikan bahwa misi semacam itu akan membutuhkan pengerahan pasukan darat dalam jumlah besar, jauh melampaui unit kecil pasukan khusus AS yang biasa diterjunkan. Hal ini menyoroti kompleksitas dan potensi eskalasi konflik jika AS memutuskan untuk mengatasi ancaman nuklir Iran secara langsung.

