Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah target di wilayah selatan Lebanon. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, serangan ini, yang terjadi pada Minggu (22/3) waktu setempat, secara spesifik menargetkan dan menghancurkan jembatan vital yang diduga digunakan oleh kelompok Hizbullah di seberang Sungai Litani, memicu kecaman keras dari Presiden Lebanon, Joseph Aoun.
Juru bicara militer Israel, dalam pernyataan resminya pada Senin (23/3), mengonfirmasi bahwa "IDF telah memulai gelombang serangan besar-besaran terhadap infrastruktur organisasi teroris Hizbullah di Lebanon selatan." Serangan ini disebut-sebut sebagai respons terhadap aktivitas kelompok militan yang didukung Iran tersebut, dengan fokus utama pada penghancuran jembatan dan fasilitas yang dianggap strategis bagi operasional mereka.

Menyikapi eskalasi militer ini, Presiden Lebanon, Joseph Aoun, tidak tinggal diam. Ia segera mengeluarkan pernyataan keras yang mengutuk tindakan Israel, menyebutnya sebagai "pendahuluan invasi darat" yang sangat berbahaya. Kecaman ini disampaikan setelah kerusakan signifikan pada jembatan dan infrastruktur lainnya di wilayah selatan Lebanon.
Dalam keterangan pers dari kantor kepresidenan, Aoun secara spesifik menyoroti penargetan dan penghancuran Jembatan Qasmiyeh di atas Sungai Litani, serta beberapa jembatan vital lainnya. Ia menegaskan bahwa serangan semacam itu merupakan "pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Lebanon" dan "eskalasi berbahaya" yang tidak bisa ditoleransi. Pernyataan ini muncul beberapa jam setelah Menteri Pertahanan Israel dilaporkan memerintahkan penghancuran lebih banyak jembatan yang diduga dimanfaatkan oleh Hizbullah.

