Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Israel melancarkan serangkaian serangan udara besar-besaran ke wilayah Lebanon. Gempuran ini, yang diklaim menargetkan kelompok Hizbullah, dilaporkan menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai puluhan lainnya, memperparah eskalasi konflik regional yang sedang berlangsung.
Kantor berita Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan bahwa serangan pada Senin (2/3/2026) ini mengakibatkan 31 korban jiwa dan sekitar 149 orang luka-luka. Sebanyak 20 korban tewas dan 91 luka-luka ditemukan di area pinggiran selatan Beirut, sementara 11 lainnya tewas dan 58 luka-luka di wilayah Lebanon bagian selatan, yang dikenal sebagai basis kekuatan Hizbullah. Laporan NNA ini juga dikutip oleh Al Jazeera, menggarisbawahi dampak serius dari serangan tersebut.

Serangan balasan Israel ini terjadi setelah Hizbullah mengklaim bertanggung jawab atas rentetan serangan roket dan drone ke wilayah utara Israel pada hari yang sama. Hizbullah menyatakan aksinya sebagai pembalasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Rangkaian peristiwa ini menandai perluasan signifikan dari konflik yang sudah berkecamuk di kawasan tersebut, yang bermula dari serangan AS-Israel ke Iran pada Sabtu (28/2) waktu setempat. Situasi ini menunjukkan spiral kekerasan yang semakin dalam, melibatkan lebih banyak aktor dan wilayah, dan berpotensi menyeret kawasan ke dalam konflik yang lebih besar.
Menyikapi situasi ini, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengeluarkan pernyataan tegas. Dalam video yang dibagikan militer Israel pada Senin (2/3), Zamir mengumumkan bahwa mereka telah memulai "kampanye ofensif terhadap Hizbullah" dan memperingatkan bahwa pertempuran ini bisa berlangsung "selama berhari-hari, bahkan banyak hari." Pernyataan Zamir menggarisbawahi kesiapan Israel untuk konflik jangka panjang, sementara jumlah korban yang terus bertambah di Lebanon menjadi bukti nyata dari dampak mematikan eskalasi ini. Kawasan Timur Tengah kini berada di persimpangan jalan, dengan prospek perdamaian yang semakin jauh.

