Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain. Aksi ini merupakan respons atas serangan sebelumnya yang menargetkan pabrik desalinasi penting di Pulau Qeshm, Iran, pada Sabtu (7/3/2026).
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa pasukan militer AS bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas vital yang berfungsi mengubah air laut menjadi air minum. Araghchi mengecam keras tindakan tersebut sebagai ‘kejahatan yang terang-terangan dan putus asa’. Dampak langsung dari serangan ini sangat signifikan, menyebabkan gangguan pasokan air bagi sekitar 30 desa di Iran.

"Pasokan air di 30 desa telah terganggu," ujar Araghchi. Ia juga menambahkan, "Menyerang infrastruktur Iran adalah langkah berbahaya dengan konsekuensi serius. AS yang menetapkan preseden ini, bukan Iran." Pernyataan ini menegaskan bahwa Iran melihat AS sebagai pihak yang memulai eskalasi berbahaya.
Tak tinggal diam, Teheran segera membalas. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa mereka menargetkan pangkalan militer AS di Juffair, Bahrain, menggunakan rudal berbahan bakar padat dan cair. Kementerian Dalam Negeri Bahrain melaporkan bahwa sirene serangan udara sempat berbunyi di wilayah tersebut, dan warga diimbau untuk tetap tenang serta mencari perlindungan.
Insiden ini menandai peningkatan serius dalam konflik antara Iran dan AS, dengan infrastruktur sipil dan militer kini menjadi sasaran langsung, memicu kekhawatiran akan stabilitas regional.

