Kabar mengejutkan datang dari Inggris. Ian Huntley, sosok yang dikenal sebagai salah satu pembunuh anak paling keji dalam sejarah negara itu, dilaporkan meninggal dunia di balik jeruji besi. Internationalmedia.co.id – News mengonfirmasi, Huntley menghembuskan napas terakhirnya di Penjara HM Frankland, Durham, Inggris Timur Laut, setelah mengalami serangan brutal di dalam fasilitas tersebut. Juru bicara kepolisian setempat menyatakan, "Ia meninggal dunia di rumah sakit pagi ini," seperti dilansir kantor berita AFP akhir pekan lalu.
Huntley sendiri adalah pelaku di balik pembunuhan keji dua gadis cilik berusia 10 tahun, Holly Wells dan Jessica Chapman, yang terjadi di wilayah timur Inggris pada tahun 2002. Kasus tragis ini kala itu mengguncang seluruh negeri, menyisakan duka mendalam dan kemarahan publik. Huntley, yang menjalani hukuman seumur hidup, menderita luka serius akibat penyerangan pada 26 Februari lalu, sebelum akhirnya meninggal dunia.

Peristiwa nahas itu bermula saat kedua sahabat tersebut, Holly dan Jessica, meninggalkan acara BBQ keluarga untuk membeli permen di desa Soham, Cambridgeshire, pada 4 Agustus 2002. Hilangnya mereka memicu operasi pencarian berskala besar yang melibatkan ratusan petugas kepolisian dan seruan bantuan masif kepada masyarakat. Foto ikonik kedua gadis yang mengenakan kaus sepak bola Manchester United yang senada dengan cepat dikenali dan menyentuh hati banyak warga Inggris. Sayangnya, jenazah mereka ditemukan hampir dua minggu kemudian, terbuang di sebuah parit yang berjarak beberapa mil dari lokasi awal.
Huntley, yang kala itu berusia 28 tahun dan bekerja sebagai penjaga sekolah, awalnya berhasil mengelabui banyak pihak. Ia bahkan memberikan wawancara kepada media, berpura-pura sangat mengkhawatirkan keselamatan kedua gadis itu. Namun, kepura-puraannya terbongkar. Meskipun ia terus membantah telah membunuh mereka, pengadilan pada tahun 2003 menyatakan Huntley bersalah atas kejahatan keji tersebut.
Skandal ini juga menyeret kekasih Huntley saat itu, Maxine Carr, seorang asisten guru di sekolah korban. Carr memberikan alibi palsu untuk Huntley dan akhirnya dipenjara karena menghalangi jalannya keadilan. Kini, Carr diketahui hidup dengan identitas baru untuk menghindari sorotan publik. Terungkapnya fakta bahwa Huntley pernah diadukan dalam kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual sebelumnya menjadi pemicu reformasi besar. Hal ini menyebabkan diberlakukannya pemeriksaan latar belakang kriminal yang ketat bagi siapa pun yang bekerja dengan anak-anak, sebuah langkah penting untuk mencegah tragedi serupa terulang.
Selama menjalani masa hukumannya, Huntley bukan kali pertama menjadi sasaran penyerangan di penjara. Ia tercatat pernah diserang beberapa kali sebelumnya, dengan insiden paling parah terjadi pada tahun 2005 dan 2010. Saat ini, pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan mendalam atas insiden yang menyebabkan kematiannya. "Penyelidikan polisi atas keadaan insiden tersebut sedang berlangsung," kata juru bicara kepolisian, seraya menambahkan bahwa jaksa akan mempertimbangkan untuk mengajukan tuntutan terhadap pelaku penyerangan tersebut.

