Internationalmedia.co.id – News – Iran secara resmi mengakui salah satu fasilitas nuklirnya yang paling vital, Natanz, telah menjadi sasaran serangan pada Minggu waktu setempat. Insiden ini diduga kuat melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Skala kerusakan dan potensi ancaman bagi publik masih menjadi tanda tanya besar, memicu kekhawatiran di tengah ketegangan regional yang memanas.
Pernyataan mengejutkan ini diungkapkan oleh Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Reza Najafi, dalam forum dewan gubernur IAEA yang beranggotakan 35 negara di Wina. "Mereka kembali menyerang fasilitas nuklir Iran yang damai dan dilindungi kemarin," ujar Najafi kepada awak media yang hadir, merujuk pada serangan tersebut.

Ketika awak media menanyakan lokasi spesifik, Najafi lugas menjawab, "Natanz." Namun, ia tidak merinci lebih jauh mengenai dampak kerusakan yang diakibatkan oleh insiden terbaru ini, menambah misteri seputar skala serangan tersebut.
Insiden ini menandai kali kedua fasilitas Natanz menjadi sasaran serangan. Sebelumnya, selama konflik 12 hari pada Juni tahun lalu, Natanz menjadi salah satu dari tiga fasilitas nuklir Iran – bersama Fordow dan Isfahan – yang dilaporkan dihantam oleh pemboman AS dan Israel.
Terletak sekitar 250 kilometer di selatan ibu kota Teheran, Natanz dikenal sebagai kompleks pengayaan uranium terbesar di Republik Islam tersebut. Menurut para analis, Natanz berperan vital dalam perakitan dan pengembangan sentrifugal, perangkat krusial yang berfungsi mengubah uranium menjadi bahan bakar nuklir.
Berdasarkan data dari lembaga Nuclear Threat Initiative (NTI), kompleks Natanz terdiri dari enam bangunan di permukaan tanah dan tiga bangunan di bawah tanah. Dua dari bangunan bawah tanah tersebut dilaporkan memiliki kapasitas untuk menampung hingga 50.000 sentrifugal. Fasilitas ini telah beroperasi sejak tahun 2003, dan menurut laporan IAEA, Iran telah berhasil memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen di lokasi ini. Sebagai perbandingan, uranium tingkat senjata memerlukan pengayaan hingga 90 persen.
Serangan yang terjadi tahun lalu dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan pada bagian permukaan tanah dari Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Percontohan di Natanz. Selain itu, aliran listrik ke lantai bawah tanah Natanz, yang menjadi lokasi penyimpanan sentrifugal, juga sempat terputus. Langkah tersebut dinilai efektif untuk mengganggu sistem operasional bawah tanah, menunjukkan tingkat kecanggihan dan target spesifik dari serangan sebelumnya. Kini, dunia menanti detail lebih lanjut mengenai dampak dari insiden terbaru ini.

