Sebuah laporan mengejutkan datang dari Accra, Ghana, mengungkap tragedi yang menimpa warganya di medan perang Ukraina. Menteri Luar Negeri Ghana, Samuel Okudzeto Ablakwa, mengungkapkan data memilukan: 55 warga negaranya tewas dalam konflik tersebut, setelah diduga kuat ditipu untuk bergabung dengan pasukan Rusia. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Ablakwa menegaskan komitmen pemerintahnya untuk menindak tegas jaringan perekrutan ilegal yang memanfaatkan warga Ghana dengan janji palsu.
Ablakwa menjelaskan bahwa insiden ini merupakan bagian dari pola yang lebih luas, di mana banyak negara Afrika mulai menyadari bahwa warga mereka telah menjadi korban penipuan untuk berperang di pihak Rusia. "Semakin banyak negara Afrika dalam beberapa bulan terakhir mulai menemukan bahwa warga negara mereka telah ditipu untuk berperang bagi tentara Rusia, dan kemudian tewas atau ditangkap di medan perang," kata Ablakwa, menyoroti pola yang mengkhawatirkan. Ia secara tegas menyebut para korban sebagai mangsa manipulasi dan disinformasi yang disebarkan oleh jaringan perdagangan manusia kriminal.

Data yang diungkapkan Ablakwa melalui platform X (sebelumnya Twitter) menunjukkan bahwa setidaknya 272 warga Ghana diyakini telah dipikat untuk berperang sejak tahun 2022. Dari jumlah tersebut, 55 orang diperkirakan telah kehilangan nyawa, dan dua lainnya ditangkap sebagai tawanan perang. Situasi ini diperparah dengan informasi dari rekan Ablakwa di Ukraina, Andriy Sybiga, yang menyebutkan bahwa lebih dari 1.780 warga Afrika dari 36 negara telah berperang untuk Rusia di Ukraina.
Menanggapi tragedi ini, Ablakwa dijadwalkan akan bertolak ke Kyiv minggu ini untuk membahas nasib dua warga Ghana yang ditawan di garis depan. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Ghana tidak akan tinggal diam. "Sebagai pemerintah yang bertanggung jawab, kita tidak bisa menutup mata terhadap statistik yang memilukan ini. Ini bukan sekadar angka, ini mewakili nyawa manusia, harapan banyak keluarga Ghana dan bangsa kita," tulisnya. Pemerintah Ghana berkomitmen penuh untuk melacak dan membongkar semua skema perekrutan ilegal yang beroperasi di negaranya. "Ini bukan perang kita dan kita tidak bisa membiarkan kaum muda kita menjadi perisai manusia bagi orang lain," tegas Ablakwa, menggarisbawahi sikap tegas negaranya terhadap konflik tersebut.

