Internationalmedia.co.id – News melaporkan, ketegangan di Jalur Gaza kembali memuncak setelah militer Israel mengklaim telah menewaskan empat individu yang disebut sebagai militan. Insiden ini terjadi di area Rafah, selatan Jalur Gaza, pada Senin waktu setempat, ketika keempatnya dilaporkan keluar dari sebuah terowongan bawah tanah dan terlibat baku tembak dengan pasukan Israel. Tel Aviv menegaskan tindakan ini merupakan pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Peristiwa ini menambah daftar panjang insiden kekerasan yang terus berlanjut di wilayah tersebut, meskipun gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat telah memasuki fase kedua sejak bulan lalu. Baik Israel maupun Hamas secara bergantian saling menuduh pihak lain melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan damai yang rapuh ini.

Dalam pernyataan resminya yang dikutip oleh AFP dan Al Arabiya pada Senin (9/2), militer Israel menjelaskan, "Empat teroris bersenjata keluar dari terowongan bawah tanah dan melepaskan tembakan ke arah tentara di area Rafah, Jalur Gaza bagian selatan… Setelah proses identifikasi, pasukan berhasil menewaskan para teroris tersebut." Pihak Israel juga mengonfirmasi bahwa tidak ada prajurit mereka yang terluka dalam insiden tersebut, seraya menyebutnya sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata" antara Israel dan Hamas.
Militer Israel menegaskan akan terus melanjutkan operasi di wilayah tersebut. "Tentara Israel terus beroperasi di area tersebut untuk mencari dan menewaskan semua teroris di dalam jalur terowongan bawah tanah," demikian pernyataan mereka.
Gencatan senjata fase kedua, yang menjadi kerangka kerja bagi upaya perdamaian, secara spesifik mengatur demiliterisasi Jalur Gaza. Ini mencakup perlucutan senjata Hamas serta penarikan pasukan Israel secara bertahap dari daerah kantong Palestina itu.
Namun, isu perlucutan senjata menjadi poin krusial yang kerap memicu ketegangan. Hamas berulang kali menyatakan bahwa perlucutan senjata adalah "garis merah" yang tidak bisa ditawar. Meskipun demikian, mereka pernah mengisyaratkan kesediaan untuk mempertimbangkan penyerahan senjata kepada otoritas pemerintahan Palestina di masa mendatang.
Menurut estimasi pejabat Israel, kekuatan Hamas di Jalur Gaza masih signifikan, dengan sekitar 20.000 petempur dan sekitar 60.000 senapan Kalashnikov dalam kepemilikan mereka. Sementara itu, sebuah komite teknokrat Palestina telah dibentuk dengan tujuan mengambil alih pemerintahan sehari-hari di Jalur Gaza. Namun, bagaimana komite ini akan menangani isu demiliterisasi yang kompleks, atau apakah mereka akan berhasil melaksanakannya, hingga kini masih menjadi tanda tanya besar.

