Internationalmedia.co.id – Pangkalan kapal selam nuklir Prancis yang dijaga ketat dikejutkan dengan kemunculan sejumlah drone misterius yang terbang di atasnya. Militer Prancis segera bertindak dengan menggunakan alat pengacau sinyal (jammer) untuk melumpuhkan perangkat tak dikenal tersebut.
Insiden ini menambah daftar panjang penampakan drone misterius di berbagai lokasi sensitif di Eropa, termasuk bandara, fasilitas militer, dan kawasan industri. Muncul kekhawatiran bahwa aktivitas ini bisa menjadi bagian dari taktik perang hibrida yang dilancarkan oleh pihak tertentu terhadap negara-negara Uni Eropa yang mendukung Ukraina.

Jaksa Prancis telah memulai penyelidikan untuk mengungkap asal-usul drone-drone tersebut. Insiden terjadi di pangkalan kapal selam Ile Longue, sebuah semenanjung di lepas pantai Brittany, Prancis barat laut, pada Kamis (4/12) malam waktu setempat.
"Sejauh ini, tidak ada indikasi keterlibatan asing," ujar Jaksa Frederic Teillet, yang memimpin penyelidikan. Penyelidikan ini bertujuan untuk mengonfirmasi apakah objek tersebut benar-benar drone, serta mengidentifikasi jenis dan jumlah perangkat yang terlibat.
Menurut keterangan jaksa, tidak ada drone yang ditembak jatuh dan tidak ada pilot yang berhasil diidentifikasi. "Marinir menggunakan jammer, bukan senjata api," jelasnya.
Sumber yang mengetahui jalannya penyelidikan mengungkapkan kepada AFP bahwa setidaknya lima drone terdeteksi terbang di atas pangkalan pada Kamis (4/12), sekitar pukul 18.30 GMT. Operasi anti-drone dan pencarian segera diluncurkan, dengan batalion marinir Prancis yang bertugas melindungi pangkalan melepaskan tembakan anti-drone.
Juru bicara prefektur maritim setempat, Guillaume Le Rasle, menegaskan bahwa "infrastruktur sensitif tidak terancam" akibat insiden ini. Pangkalan Ile Longue adalah rumah bagi empat kapal selam rudal balistik Prancis, yaitu Le Triomphant, Le Temeraire, Le Vigilant, dan Le Terrible. Setidaknya satu kapal selam selalu berada di laut untuk memastikan pencegahan nuklir.
Pangkalan ini dijaga sangat ketat oleh 120 petugas kepolisian maritim yang berkoordinasi dengan Marinir. Menteri Pertahanan Catherine Vautrine menekankan bahwa penerbangan di atas pangkalan militer dilarang di Prancis. Ia memuji respons cepat personel militer dan menyatakan bahwa penyelidikan akan mengungkap motif di balik penerbangan misterius tersebut.

