Internationalmedia.co.id – News – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, melontarkan tuduhan mengejutkan dengan menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sengaja memicu konflik bersenjata terhadap Iran "hanya demi kesenangan pribadi." Pernyataan kontroversial ini muncul di tengah memanasnya ketegangan antara AS dan Israel melawan Iran.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan pembawa acara CBS, Margaret Brennan, Aragchi menegaskan kesiapan negaranya untuk "membela diri selama diperlukan." Ia menambahkan dengan nada getir, "Banyak nyawa melayang hanya karena Presiden Trump ingin bersenang-senang… mereka menenggelamkan kapal dan menyasar berbagai lokasi karena itu dianggap menyenangkan."

Aragchi menekankan bahwa konflik yang sedang berlangsung ini merupakan "perang pilihan Presiden Trump dan Amerika Serikat." Ia menegaskan kembali komitmen Iran untuk terus melanjutkan pertahanan diri. Pernyataan ini selaras dengan sinyal dari pemerintahan Trump yang mengindikasikan bahwa eskalasi konflik bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan semula, sebagaimana dilaporkan CBS News pada Senin (16/3/2026).
Saat Brennan mendesak Aragchi mengenai laporan serangan drone dan rudal Iran di seantero Teluk serta dampaknya terhadap negara-negara tetangga yang menjadi tuan rumah bagi pasukan militer AS, Aragchi dengan tegas membela tindakan Teheran. Ia mengklaim bahwa Iran secara eksklusif menargetkan aset-aset militer Amerika yang menampung personel militer AS.
"Kami hanya menyasar aset-aset Amerika, instalasi Amerika, dan pangkalan militer Amerika," jelas Aragchi. Ia menambahkan, "Mereka memanfaatkan wilayah negara-negara tersebut untuk menyerang kami… mereka menggunakan wilayah Uni Emirat Arab untuk melancarkan serangan terhadap kami."
Menanggapi pertanyaan Brennan mengenai laporan serangan drone dan rudal Iran yang disebut-sebut mengenai area sipil di negara-negara tetangga, Aragchi membantah keras tuduhan tersebut, menegaskan bahwa warga sipil tidak pernah menjadi target. Selain itu, Menlu Iran juga menyinggung Selat Hormuz, jalur perairan vital yang menjadi urat nadi sekitar 20% pasokan minyak global. Meskipun Iran belum secara resmi menutup selat strategis tersebut, Aragchi mengakui adanya sejumlah kapal yang memilih menghindari rute itu akibat kekhawatiran keamanan di tengah gejolak konflik.

