Internationalmedia.co.id – News – Gelombang demonstrasi anti-pemerintah kembali mengguncang Iran, dipelopori oleh ribuan mahasiswa dari berbagai universitas. Aksi protes ini menandai unjuk rasa berskala besar pertama sejak penumpasan brutal yang menewaskan banyak korban bulan lalu, dan dilaporkan turut diwarnai bentrokan antara kubu demonstran dan kelompok pro-pemerintah. Peristiwa ini, yang diverifikasi oleh laporan BBC pada akhir pekan lalu, menunjukkan eskalasi ketegangan di negara tersebut.
Di Teheran, ibu kota Iran, rekaman yang telah diverifikasi oleh BBC menunjukkan ratusan mahasiswa berbaris di kampus Universitas Teknologi Sharif pada hari Sabtu, bertepatan dengan dimulainya semester baru. Mereka terlihat membawa bendera nasional Iran, menyuarakan aspirasi mereka secara damai sebelum ketegangan meningkat. Slogan-slogan anti-pemerintah menggema, dengan seruan "matilah diktator" yang secara terang-terangan ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Tak jauh dari lokasi, kelompok pendukung pemerintah juga terlihat, dan video menunjukkan pecahnya perkelahian antara kedua belah pihak, menambah panasnya suasana.

Gelombang protes serupa juga melanda kampus lain di Teheran, termasuk Universitas Shahid Beheshti yang menggelar aksi duduk damai, serta Universitas Teknologi Amir Kabir yang juga dipenuhi seruan menentang rezim. Di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran, mahasiswa menyuarakan tuntutan "Kebebasan, kebebasan" dan mendesak rekan-rekan mereka untuk "teriakkan, teriakkan untuk hak-hak kalian."
Laporan menyebutkan bahwa demonstrasi berskala besar juga terjadi di berbagai lokasi lain sepanjang hari itu, dengan seruan untuk melanjutkan aksi pada hari Minggu. Hingga kini, belum ada kejelasan mengenai jumlah demonstran yang ditangkap. Aksi-aksi ini juga menjadi bentuk penghormatan mahasiswa terhadap ribuan korban yang tewas dalam protes massal pada Januari lalu.
Di tengah gejolak domestik ini, ketegangan internasional juga membayangi. Amerika Serikat diketahui telah meningkatkan kehadiran militernya di dekat Iran, dengan Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan sedang mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas. AS dan sekutu-sekutu Eropanya terus mencurigai Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang selalu dibantah keras oleh Teheran.
Pertemuan antara pejabat AS dan Iran di Swiss pada Selasa lalu sempat menunjukkan adanya kemajuan dalam pembicaraan untuk membatasi program nuklir Iran. Namun, Trump kemudian mengeluarkan pernyataan tegas, menyebut bahwa dunia akan segera mengetahui "dalam waktu sekitar 10 hari ke depan" apakah kesepakatan akan tercapai atau AS akan mengambil tindakan militer. Sebelumnya, Trump juga dikenal vokal mendukung para demonstran Iran, bahkan menjanjikan "bantuan sedang dalam perjalanan."
Perlu diingat, gelombang demonstrasi besar-besaran yang meletus di Iran bulan lalu bermula dari keluhan ekonomi dan dengan cepat meluas, menjadi protes terbesar yang disaksikan negara itu sejak Revolusi Islam 1979.

