Internationalmedia.co.id – News – Presiden Prancis Emmanuel Macron baru-baru ini mengeluarkan pernyataan tegas yang mengguncang narasi seputar konflik di Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa perubahan fundamental pada kepemimpinan Iran tidak akan tercapai "hanya melalui bombardir Amerika Serikat-Israel." Pernyataan ini disampaikan di tengah eskalasi perang regional yang dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran, yang diperkirakan Macron dapat berlanjut selama "beberapa minggu."
Berbicara dari atas kapal induk Charles de Gaulle milik Prancis yang berlayar di perairan Mediterania pada Senin (9/3), Macron secara lugas menyatakan, "Saya rasa Anda tidak dapat mencapai perubahan rezim yang besar atau perubahan dalam sistem politik hanya dengan bombardir." Ia menambahkan, fase intens dari konflik yang dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran ini, "dapat berlangsung beberapa hari, mungkin beberapa minggu," seperti dikutip dari Al Arabiya.

Menanggapi situasi genting ini, pemimpin Prancis tersebut mengungkapkan bahwa negaranya bersama para sekutu sedang menggodok sebuah misi "pertahanan" krusial. Misi ini dirancang khusus untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang vital bagi perekonomian global.
Macron, yang tiba dengan helikopter di kapal induknya setelah serangan 28 Februari memicu perang di Timur Tengah, menjelaskan lebih lanjut tujuan misi Hormuz. Ia menyebutkan bahwa langkah ini akan melibatkan pengawalan kapal-kapal kontainer dan tanker, guna memastikan selat tersebut dapat beroperasi kembali secara bertahap "setelah berakhirnya fase terpanas konflik." "Ini esensial bagi perdagangan internasional, serta untuk kelancaran aliran gas dan minyak, yang harus bisa kembali meninggalkan wilayah ini," ujar Macron saat kunjungan ke Siprus untuk membahas keamanan regional.
Dalam pertemuan dengan Presiden Siprus Nikos Christodoulides dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis, Macron menekankan bahwa misi ini akan bersifat "murni defensif, murni dukungan" dan akan dibentuk oleh koalisi negara-negara Eropa dan non-Eropa. Sejalan dengan inisiatif ini, Uni Eropa pada Senin (9/3) juga menyatakan kesiapannya untuk "meningkatkan" operasi perlindungan lalu lintas maritim di Timur Tengah, menyusul diskusi tentang penguatan misi angkatan lautnya di Laut Merah pasca-perang regional yang meluas.
Sejak meletusnya perang pada 28 Februari, lalu lintas maritim di Selat Hormuz, yang merupakan arteri utama Teluk dan menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak mentah global, praktis terhenti. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi dan pasokan energi dunia.

