Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di perbatasan Lebanon selatan kembali memanas setelah serangkaian serangan militer Israel menewaskan empat orang, termasuk seorang balita berusia tiga tahun. Insiden tragis ini, yang dilaporkan terjadi dalam dua operasi terpisah, diklaim militer Israel menargetkan anggota kelompok Hizbullah.
Menurut laporan dari Al Arabiya dan Reuters yang dirilis awal pekan ini, tiga dari korban tewas, termasuk balita tersebut, gugur dalam serangan udara di desa Yanouh. Informasi ini dikonfirmasi oleh National News Agency (NNA) Lebanon, mengutip Kementerian Kesehatan setempat. Sementara itu, korban jiwa keempat dilaporkan tewas di desa perbatasan Aita al-Shaab akibat serangan serupa.

Militer Israel menyatakan bahwa di Yanouh, mereka berhasil menewaskan seorang militan Hizbullah yang diidentifikasi sebagai kepala artileri kelompok tersebut di wilayah itu. Pihak Israel menuduh individu tersebut telah melancarkan banyak serangan terhadap Israel selama perang dan sedang berupaya memulihkan kemampuan artileri Hizbullah.
Menanggapi klaim adanya korban sipil, militer Israel menyatakan "menyadari klaim bahwa warga sipil yang tidak terlibat telah tewas." Mereka menambahkan bahwa langkah-langkah telah diambil untuk mengurangi dampak terhadap warga sipil, termasuk penggunaan amunisi presisi, dan menyatakan penyesalan atas jatuhnya korban yang tidak terlibat. "Insiden tersebut sedang diselidiki," kata militer Israel.
Selain serangan mematikan, dalam insiden terpisah pada Senin (9/2) dini hari waktu setempat, pasukan Israel juga menangkap seorang pejabat senior dari al-Jamaa al-Islamiya, sebuah kelompok Sunni Lebanon. Penangkapan terjadi di desa Habbariyeh, dekat kota Hasbaiyaa di Lebanon selatan. Militer Israel menyebutnya sebagai "teroris senior" dan telah memindahkannya ke Israel untuk diinterogasi. Kelompok al-Jamaa al-Islamiya diketahui telah menembakkan roket ke Israel selama perang Gaza.
Serangan-serangan ini bukan yang pertama. Israel telah secara rutin melancarkan operasi di Lebanon sejak perang tahun 2024 dengan Hizbullah. Sejak gencatan senjata diberlakukan, sekitar 400 orang telah tewas, menurut data dari sumber keamanan Lebanon.
Dalam sebuah pernyataan, Hizbullah mengecam insiden tersebut sebagai "eskalasi berbahaya" dan "menandakan awal fase baru agresi Israel." Mereka menegaskan telah menghormati gencatan senjata di Lebanon selatan. Sebaliknya, Israel menuduh Hizbullah berupaya mempersenjatai diri kembali, melanggar perjanjian gencatan senjata yang ada dengan Lebanon.

