Operasi dramatis Amerika Serikat di Venezuela yang berujung pada upaya penggulingan Nicolas Maduro awal Januari ini, kini menjadi sorotan utama di Pyongyang. Menurut seorang mantan diplomat Korea Utara, skenario ini adalah mimpi buruk bagi pemimpin tertinggi Kim Jong Un. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, peristiwa di Caracas itu diyakini telah membuka mata Kim terhadap kerentanan posisinya terhadap operasi serupa.
Lee Ik Kyu, mantan utusan diplomatik Korea Utara untuk Kuba dari tahun 2019 hingga 2023, mengungkapkan kekhawatirannya dalam sebuah wawancara. Ia menilai, manuver cepat Washington di Caracas awal bulan ini merupakan skenario terburuk bagi mantan atasannya, Kim Jong Un. "Kim pasti merasa bahwa apa yang disebut sebagai operasi ‘pemenggalan’ benar-benar mungkin terjadi," ujar Lee, yang kini bekerja di sebuah lembaga think-tank di Seoul, Korea Selatan.

Kepemimpinan Korea Utara memang telah lama menuduh AS berupaya menggulingkan mereka dari kekuasaan, dan selalu menegaskan bahwa program nuklir serta rudal adalah penangkal esensial terhadap upaya perubahan rezim. Lee, yang membelot ke Korea Selatan pada November 2023, memperkirakan insiden Maduro ini akan memicu kepanikan di kalangan elite Pyongyang yang sangat terobsesi dengan keamanan. Ia menambahkan, Kim Jong Un kemungkinan besar akan "merombak seluruh sistem terkait keamanannya dan terkait tindakan balasan jika terjadi serangan terhadap dirinya."
Sejak menetap di Korea Selatan, Lee Ik Kyu, yang kini berusia 53 tahun, telah menjadi komentator vokal mengenai tanah kelahirannya. Ia rutin menulis kolom untuk surat kabar terbesar di Korea Selatan dan telah menerbitkan memoar dalam bahasa Jepang berjudul "Kim Jong Un yang Saya Saksikan", dengan versi bahasa Inggris yang sedang dalam proses. Tinggal di Korea Selatan dan menyaksikan gejolak politik beberapa tahun terakhir, telah memperdalam apresiasinya terhadap sistem demokrasi liberal.
"Korea Selatan bisa tetap berjalan tanpa presiden selama berbulan-bulan setelah pemakzulan. Bahkan tanpa presiden, sistemnya bekerja dengan sangat baik," sebutnya, merujuk pada pemakzulan mantan Presiden Korea Selatan beberapa waktu lalu. Hal semacam itu, menurut Lee, tidak akan pernah terpikirkan di Korea Utara. "Korea Utara telah sepenuhnya mendewakan kepemimpinannya. Mereka tidak dapat memberikan gagasan kepada rakyatnya bahwa apa yang disebut sebagai pemimpin tertinggi mereka benar-benar dapat digulingkan oleh kehendak rakyat," pungkasnya.
Untuk informasi lebih lanjut dan analisis mendalam, saksikan Live internationalmedia.co.id Sore.
(nvc/ita)

