Teheran – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan posisi negaranya yang unik dalam kancah internasional: selalu mengedepankan jalur diplomasi, namun di saat yang sama, siap sedia menghadapi kemungkinan perang. Pernyataan ini disampaikan dalam Kongres Nasional Kebijakan Luar Negeri Republik Islam di Teheran pada Minggu (8/2) waktu setempat. Internationalmedia.co.id – News mencatat, deklarasi ini muncul hanya dua hari setelah Iran dan Amerika Serikat terlibat dalam pembicaraan nuklir tidak langsung di Oman, di tengah meningkatnya retorika perang dari AS terhadap Republik Islam.
"Kami adalah bangsa yang berdiplomasi, namun kami juga bangsa yang siap berperang," ujar Araghchi, seperti dikutip dari laporan Internationalmedia.co.id. Ia menambahkan, kesiapan berperang ini bukan berarti Iran mencari konflik, melainkan sebagai bentuk pertahanan diri agar tidak ada pihak yang berani menantang kedaulatan Iran.

Menurut diplomat senior tersebut, prinsip utama yang menopang kebijakan luar negeri Iran saat ini adalah martabat. Konsep ini mencakup upaya menjaga kemerdekaan, menolak segala bentuk dominasi asing, dan mempertahankan kedaulatan negara secara utuh.
Araghchi lebih lanjut menggarisbawahi bahwa respons Iran akan sangat bergantung pada pendekatan yang diambil oleh pihak lain. "Diplomasi akan disambut dengan bahasa yang sama, begitu pula dengan penggunaan kekuatan dan bahasa penghormatan," tegasnya, mengindikasikan kebijakan timbal balik yang jelas.
Teheran juga menyatakan kesiapannya untuk menghilangkan ambiguitas seputar program nuklir damainya. Araghchi menekankan bahwa diplomasi merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai tujuan ini, mengingat jalur lain terbukti tidak membuahkan hasil.
"Mereka (musuh) membom fasilitas kami, tetapi mereka gagal mencapai hasil yang mereka inginkan," ungkap Araghchi. Ia menambahkan, "Pengetahuan tidak dapat dihancurkan oleh pemboman; teknologi tidak dapat dihancurkan. Ada teknologi dan ada pengetahuan, jadi tidak ada pilihan selain bernegosiasi."
Selain itu, diplomat senior ini kembali menegaskan hak resmi Iran atas program energi nuklir damai. Negara tersebut menuntut agar haknya dihormati sepenuhnya oleh komunitas internasional.
"Saya percaya rahasia kekuatan Republik Islam Iran terletak pada kemampuannya untuk melawan intimidasi, dominasi, dan tekanan dari pihak lain," pungkas Araghchi, menggarisbawahi fondasi ketahanan negaranya di tengah dinamika geopolitik yang kompleks.

