Jakarta – Situasi di Timur Tengah memanas setelah Angkatan Bersenjata Iran untuk pertama kalinya meluncurkan serangkaian rudal canggih dalam eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Di antara rudal yang dikerahkan, rudal balistik Sejjil menjadi sorotan utama. Peluncuran ini menandai babak baru dalam respons Iran, yang menurut laporan Internationalmedia.co.id – News, dilakukan sebagai balasan atas serangan sebelumnya.
Rudal Sejjil menjadi elemen kunci karena ini adalah kali pertama penggunaannya dalam perang yang telah berkecamuk sejak 28 Februari lalu. Keunggulan rudal ini terletak pada penggunaan bahan bakar padat, sebuah fitur krusial yang membuatnya jauh lebih sulit untuk dideteksi dan dicegat di udara dibandingkan rudal berbahan bakar cair. Kemampuan ini memberikan Iran keuntungan strategis dalam operasi militer.

Laporan mengenai peluncuran Sejjil ini dikonfirmasi oleh media Iran, Press TV, yang menyebut rudal tersebut merupakan bagian dari gelombang ke-54 operasi ‘True Promise 4’. Target utama serangan ini adalah pusat komando dan kendali rezim Israel, serta berbagai infrastruktur militer penting. Brigadir Jenderal Majid Mousavi, Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), turut mengonfirmasi peluncuran Sejjil dalam gelombang serangan balasan terbaru melalui unggahannya di platform X.
Dampak serangan ini segera terasa di Israel. Media-media lokal melaporkan sirene peringatan serangan udara meraung di sejumlah wilayah vital, termasuk ibu kota Tel Aviv, Herzliya, dan setidaknya 141 lokasi lainnya di seluruh negeri. IRGC, seperti dilansir Press TV pada Minggu (15/3) waktu setempat, juga mengumumkan bahwa operasi pembalasan ini dilaksanakan dengan kode ‘Ya Zahra’.
Selain Sejjil, IRGC menyatakan telah mengerahkan sejumlah besar rudal balistik lainnya. Termasuk di antaranya adalah Khorramshahr, rudal super berat dengan hulu ledak ganda; Kheybar; Qadr; dan Emad, menunjukkan skala dan variasi kekuatan rudal yang dimiliki Iran.
Mengenal lebih jauh, situs CSIS Missile Defense Project mengategorikan Sejjil sebagai rudal balistik jarak menengah (MRBM) buatan Iran. Penggunaan bahan bakar padat bukan hanya membuatnya sulit dideteksi, tetapi juga memungkinkan pengerahan yang lebih cepat karena tidak memerlukan proses pengisian bahan bakar yang memakan waktu sebelum peluncuran. Rudal dua tahap ini dikembangkan sebagai bagian dari upaya Iran untuk memperkuat pertahanan tanpa ketergantungan teknologi asing.
Spesifikasi teknis Sejjil mencakup jangkauan maksimum sekitar 2.000 kilometer, panjang 18 meter, diameter 1.25 meter, dan berat peluncuran sekitar 23.600 kilogram. Yang menarik, rudal ini diduga mampu membawa hulu ledak konvensional maupun non-konvensional, dan dapat diluncurkan dari platform mobile, menambah fleksibilitas serta kerahasiaan operasionalnya.
Jejak pengembangan Sejjil dimulai dengan uji coba pertama pada November 2008. Varian Sejjil-2 muncul pada Mei 2009 dengan peningkatan sistem pemandu. Bahkan, ada laporan yang belum terkonfirmasi mengenai pengembangan Sejjil-3 yang diperkirakan memiliki tiga tahap, jangkauan hingga 4.000 km, dan bobot peluncuran sekitar 38.000 kg. Setelah lebih dari satu dekade ‘tidur’, rudal Sejjil kembali unjuk gigi dalam latihan militer ‘Nabi Azam 15’ pada Januari 2021, sebelum akhirnya digunakan dalam operasi nyata baru-baru ini.
Peluncuran rudal Sejjil ini, yang pertama kalinya dalam konflik langsung, menegaskan peningkatan kapabilitas militer Iran dan berpotensi mengubah dinamika kekuatan di kawasan. Masyarakat internasional kini menanti bagaimana respons dari pihak-pihak yang terlibat menyikapi perkembangan signifikan ini.

