Internationalmedia.co.id – News – Menyusul peristiwa tragis pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Republik Islam Iran dengan cepat menunjuk seorang ulama senior, Ayatollah Alireza Arafi, untuk memegang kendali sementara negara. Penunjukan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya transisi rezim yang krusial, menempatkan Arafi dalam Dewan Kepemimpinan Sementara.
Dilansir dari laporan AFP pada Selasa, 3 Maret 2026, Dewan Penentu Kebijakan Iran secara resmi memilih Ayatollah Alireza Arafi untuk menjadi anggota dewan kepemimpinan transisi. "Dewan Penentu Kebijakan telah memilih Ayatollah Alireza Arafi sebagai anggota dewan kepemimpinan sementara," demikian pernyataan juru bicara dewan, Mohsen Dehnavi, melalui unggahan di platform X.

Dewan Kepemimpinan Sementara ini tidak hanya dipimpin oleh Arafi, melainkan juga melibatkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei. Ketiganya akan bahu-membahu memimpin negara hingga Majelis Pakar dapat memilih seorang pemimpin tetap dalam waktu sesingkat mungkin, sebagaimana dijelaskan oleh Dehnavi.
Nama Arafi sendiri bukanlah sosok asing dalam lingkaran kekuasaan Iran. Ia sebelumnya telah digadang-gadang sebagai salah satu kandidat potensial pengganti Khamenei. Dikenal sebagai ulama terkemuka dengan rekam jejak panjang di berbagai lembaga pemerintahan, Arafi juga merupakan figur yang sangat dipercaya oleh mendiang Ayatollah Khamenei.
Saat ini, ia menjabat sebagai wakil ketua Majelis Pakar dan merupakan anggota Dewan Penjaga yang memiliki pengaruh besar, bertanggung jawab dalam meninjau calon pemilihan serta undang-undang yang disahkan oleh parlemen. Selain itu, Arafi juga memimpin sistem seminari di seluruh Iran.
Menurut analisis Alex Vatanka dari Middle East Institute, kesediaan Khamenei untuk menunjuk Arafi ke posisi-posisi senior dan strategis mengindikasikan kepercayaan besar terhadap kapabilitas birokrasinya. Meskipun demikian, Arafi tidak dikenal sebagai tokoh politik yang sangat berpengaruh dan tidak memiliki kedekatan khusus dengan lembaga keamanan negara.
Di luar kiprahnya di pemerintahan dan keagamaan, Arafi dikenal mahir dalam bidang teknologi serta fasih berbahasa Arab dan Inggris. Produktivitasnya juga terlihat dari karyanya, dengan total 24 buku dan artikel yang telah ia terbitkan.

