Saturday, 15 June 2024

Search

Saturday, 15 June 2024

Search

Inter Milan Kunci Gelar di Laga Derby

Skuad Inter Milan merayakan gelar Liga Italia musim ini.

MILAN – Inter Milan resmi mengunci gelar Liga Italia musim ini, usai  meraih kemenangan 2-1 atas AC Milan dalam Derby della Madonnina di San Siro, Selasa (23/4) dinihari WIB.

Pada laga giornata ke-33 itu, Inter unggul 1-0 di babak pertama lewat gol Francesco Acerbi (18). Marcus Thuram menggandakan keunggulan Inter di awal babak kedua (49) dan Milan membalas lewat gol Fikayo Tomori (80).

Inter pun kokoh di puncak klasemen dengan 86 poin. Pasukan Simone Inzaghi unggul 17 poin dari AC Milan di bawahnya dengan 5 laga tersisa, sehingga Inter pun dinobatkan sebagai juara Serie A.

Ini menjadi gelar ke-20 Inter Milan sepanjang sejarah. La Beneamata pun berhak menyematkan dua bintang emas di atas logo klub.

Inzaghi mengaku puas bisa membawa timnya meraih gelar juara lantaran kepastian tersebut didapat setelah mengalahkan rivalnya. Ini scudetto pertamanya yang diraih bersama Inter Milan. Sebelumnya sukses mempersembahkan 2 gelar Coppa Italia dan 3 titel Piala Super Italia.

“Ini adalah sensasi yang luar biasa, kami melakukan sesuatu yang luar biasa dan merupakan hal yang tepat untuk membagikannya kepada sebanyak mungkin orang,” kata Inzaghi, dilansir dari Football Italia.

Eks pelatih Lazio ini menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh jajaran Nerazzurri yang telah memberikan dukungan penuh selama ini untuknya.  “Ada begitu banyak tokoh utama dalam kesuksesan ini, pertama dan terutama para pemain, tetapi juga para direktur dan Presiden Steven Zhang, karena apa pun yang kami perlukan selama perjalanan ini telah disediakan untuk kami,” ujarnya.

Pria 48 tahun itu pun kini masuk dalam daftar elite pemenang Serie A sebagai pemain dan pelatih. Ia juga pernah membawa Lazio menjadi kampiun Italia pada musim 1999-2000. “Sensasinya begitu luar biasa, kami melakukan sesuatu yang luar biasa dan sangat tepat jika membagikan hal ini pada banyak orang,” ujar Inzaghi.

Dalam sejarah kasta tertinggi sepak bola Italia, tak banyak sosok yang mampu meraih juara sebagai pemain dan pelatih. Menurut penelusuran detikSport, setidaknya ada 19 orang yang masuk daftar elite ini dalam seabad terakhir, terbaru adalah Inzaghi.

Sebagian besar nama terdengar asing karena mereka telah meraihnya sejak puluhan tahun silam. Contohnya mendiang Carlo Bigatto yang meraih titel pertama sebagai pemain bersama Juventus pada 1925-26 dan sebagai pelatih di klub yang sama pada 1934-35.

Namun cukup banyak yang masih dikenal pencinta sepak bola masa kini, seperti Giovanni Trapattoni (saat main di Milan dan melatih Juventus serta Inter), Fabio Capello (saat main di Milan dan Juventus serta melatih Milan), Carlo Ancelotti (saat main di AS Roma dan Milan serta melatih Milan), Roberto Mancini (saat main di Sampdoria dan Lazio serta melatih Inter), Antonio Conte (saat main di Juventus dan melatih Juventus serta Inter), dan Stefano Pioli (saat main di Juventus dan melatih Milan).

Ini juga merupakan scudetto ke-20 buat Inter. Kapten Lautaro Martinez bertekad untuk meraih lebih banyak sukses. “Di sepakbola selalu ada menang dan kalah, tapi saya merasa dua kali lebih senang kali ini. Saya bilang ke para pemain, kami dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, kami harus memaksimalkan peluang ini untuk juara di stadion Milan (Milan sebagai tuan rumah),” ujar penyerang asal Argentina ini dikutip Football Italia.

Sementara pelatih AC Milan, Stefano Pioli  mengaku telah mencoba untuk membangkitkan mental pemainnya untuk bisa memenangkan laga tersebut.  “Saya mencoba untuk meningkatkan moral para pemain, karena jelas ini adalah kekalahan yang menyakitkan bagi semua yang ada di baliknya. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk meyakinkan para pemain saya, karena kami harus mengakhiri musim dengan baik. Sayangnya, kami kembali tidak mampu meraih hasil imbang dalam derby ini,” ujar Pioli, dilansir dari Football Italia.

Pioli menjelaskan strateginya tidak berjalan cukup mulus. Dia pun berdalih kalau dewi fortuna tidak berpihak pada skuadnya. “Prioritasnya adalah menghilangkan keseimbangan dua lawan dua dalam serangan dan mencari ruang untuk serangan balik. Kami tertinggal, saya pikir Inter menyakiti kami hanya melalui sepak pojok dan serangan balik, namun ketika Anda mengejar permainan, Anda harus mengambil resiko,” tuturnya.***

Vitus DP

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media