Internationalmedia.co.id – News – Panggung dunia kembali diwarnai ketegangan, dengan kawasan Timur Tengah menjadi sorotan utama. Iran baru-baru ini menghelat latihan perang skala besar di dekat Selat Hormuz, sebuah jalur perairan strategis yang krusial bagi lalu lintas minyak global. Manuver militer ini berlangsung di tengah kewaspadaan tinggi Teheran terhadap potensi agresi dari Amerika Serikat (AS), menyusul pengerahan kapal induk dan berbagai aset militer Washington lainnya ke wilayah tersebut.
Sebelum tembakan langsung dimulai, otoritas Iran telah mengeluarkan Notice to Airmen (NOTAM) pada Selasa (27/1) waktu setempat, memberikan peringatan mengenai aktivitas militer yang melibatkan tembakan langsung di wilayah udara sepanjang Selat Hormuz pada Rabu (28/1/2026). Langkah ini menggarisbawahi keseriusan Iran dalam menghadapi ancaman yang mereka rasakan.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa "armada" militer AS lainnya sedang dalam perjalanan menuju Iran. Pengumuman ini disampaikan tak lama setelah militer AS mengonfirmasi kedatangan kapal induk USS Abraham Lincoln di kawasan Timur Tengah. Meskipun demikian, Trump juga menyuarakan harapannya agar Teheran dapat mencapai kesepakatan dengan Washington, di tengah memuncaknya ketegangan diplomatik dan militer yang terjadi.
Pemerintah Iran sendiri telah mengeluarkan peringatan tegas kepada negara-negara tetangganya. Mereka menegaskan bahwa negara mana pun yang wilayahnya digunakan sebagai basis untuk melancarkan serangan terhadap Teheran akan dianggap sebagai musuh. Peringatan ini muncul seiring dengan pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln, yang didampingi oleh tiga kapal perang yang dilengkapi rudal Tomahawk, ke wilayah tanggung jawab Pusat Komando AS (CENTCOM) di Timur Tengah.
Sementara itu, konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina terus menelan korban jiwa dalam skala yang memprihatinkan. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan oleh lembaga think-tank Amerika Serikat, Center for Strategic and International Studies (CSIS), pada Selasa (27/1) waktu setempat, mengungkapkan bahwa invasi militer Rusia telah menyebabkan hampir dua juta korban militer. Angka mengejutkan ini mencakup korban tewas, luka-luka, dan hilang dari kedua belah pihak selama empat tahun perang. Baik Rusia maupun Ukraina diketahui tidak secara rutin merilis jumlah pasti korban militer mereka.
Dari Asia, kabar mengejutkan datang dari Korea Selatan. Mantan Ibu Negara Kim Keon Hee dijatuhi hukuman penjara 20 bulan atau satu tahun delapan bulan oleh Pengadilan Distrik Pusat Seoul pada Rabu (28/1). Kim Keon Hee dinyatakan bersalah atas kasus korupsi, meskipun ia dibebaskan dari dakwaan manipulasi saham dan dakwaan lainnya. Vonis ini menambah daftar panjang kasus hukum yang melibatkan keluarga politik di Korea Selatan, menyusul hukuman penjara yang sebelumnya dijatuhkan kepada suaminya atas tindakan terkait deklarasi darurat militer tahun 2024.
Berbagai peristiwa ini, seperti yang dihimpun internationalmedia.co.id, menunjukkan dinamika kompleks dan ketidakpastian yang mewarnai lanskap politik dan keamanan global saat ini.

