Gelombang kekerasan terbaru kembali menerjang Jalur Gaza, menewaskan sedikitnya lima orang dalam serangkaian serangan Israel pada Jumat dini hari. Insiden mematikan ini, seperti dilansir Internationalmedia.co.id – News, sontak memicu kekhawatiran mendalam akan rapuhnya gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Hamas, yang kini terancam goyah.
Badan pertahanan sipil Gaza, yang berfungsi sebagai pasukan penyelamat di bawah naungan otoritas Hamas, melaporkan bahwa serangan udara pada dini hari Jumat di Gaza tengah menewaskan dua individu dan melukai satu lainnya. Hanya berselang beberapa waktu, sebuah serangan drone di bagian selatan Jalur Gaza juga dilaporkan merenggut tiga nyawa dan menyebabkan sejumlah orang mengalami luka-luka.

Peristiwa tragis ini mencuat di tengah keberlanjutan gencatan senjata yang telah memasuki fase kedua sejak diberlakukan pada 10 Oktober. Meskipun kesepakatan tersebut mengharuskan pasukan Israel untuk mundur ke belakang "Garis Kuning", mereka faktanya masih menguasai lebih dari separuh teritori. Ironisnya, kedua belah pihak, baik Israel maupun Hamas, terus saling tuding mengenai pelanggaran ketentuan gencatan senjata.
Menanggapi insiden tersebut, militer Israel mengeluarkan pernyataan yang menyebut bahwa mereka menargetkan "anggota Hamas bersenjata" di daerah Rafah, Gaza selatan, sebagai balasan atas apa yang mereka sebut sebagai "pelanggaran perjanjian gencatan senjata". Militer Israel mengklaim telah "mengidentifikasi beberapa pasukan bersenjata yang muncul dari infrastruktur bawah tanah di Rafah timur", yang kemudian diserang oleh pasukan gabungan Angkatan Udara Israel untuk "melenyapkan ancaman" tersebut.
Data dari Kementerian Kesehatan Gaza, yang juga berada di bawah otoritas Hamas, menunjukkan bahwa setidaknya 618 warga Palestina telah kehilangan nyawa sejak dimulainya gencatan senjata. Di sisi lain, militer Israel melaporkan bahwa lima tentaranya tewas dalam kurun waktu yang sama.
Namun, perlu dicatat bahwa pembatasan media dan akses yang terbatas di Jalur Gaza telah menghambat kantor berita AFP untuk melakukan verifikasi independen terhadap angka korban atau meliput dinamika pertempuran secara leluasa. Situasi ini menambah lapisan ketidakpastian di tengah eskalasi kekerasan yang terus mengancam stabilitas wilayah tersebut.

