Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran kini memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Eskalasi terbaru menunjukkan bahwa sasaran perang tidak lagi terbatas pada fasilitas militer, melainkan telah merembet ke infrastruktur vital seperti energi dan air. Depot minyak hingga fasilitas desalinasi air menjadi target utama dalam perluasan konflik di Timur Tengah. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa situasi ini memicu kekhawatiran global akan dampak kemanusiaan dan ekonomi yang lebih luas.
Berdasarkan rangkuman dari pemberitaan Aljazeera dan AFP, serangan Israel terhadap depot penyimpanan minyak dan fasilitas kilang di Iran telah memicu kebakaran hebat di Teheran. Kobaran api membumbung tinggi di ibu kota Iran, menciptakan pemandangan mencekam. Militer Israel mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, menyatakan bahwa mereka menargetkan fasilitas minyak yang terafiliasi dengan angkatan bersenjata Iran.

Media pemerintah Iran juga mengonfirmasi serangan ini, menandai kali pertama infrastruktur minyak Republik Islam menjadi sasaran. Kantor berita resmi IRNA melaporkan, "Kami melaporkan bahwa sebuah depot minyak di selatan Teheran menjadi sasaran Amerika Serikat dan rezim Zionis." Meskipun depot tersebut dekat dengan kilang utama, kantor berita ILNA menyebut fasilitas kilang tidak mengalami kerusakan. Serangan serupa juga terjadi di depot minyak lain di barat laut Teheran, di mana jurnalis AFP menyaksikan api dan asap membumbung dari lokasi tersebut.
Lima Titik Fasilitas Minyak Diserang, Korban Berjatuhan
Total, lima fasilitas minyak Iran dilaporkan diserang oleh AS dan Israel, menyebabkan korban jiwa. CEO Perusahaan Distribusi Produk Minyak Nasional Iran, Keramat Veyskarami, kepada televisi pemerintah Iran (dilansir AFP, Minggu, 8/3), menyatakan, "Semalam, empat depot minyak dan pusat transportasi produk minyak bumi di Teheran dan Alborz diserang oleh pesawat musuh." Empat personel, termasuk dua pengemudi truk tangki minyak, tewas dalam insiden tersebut. Meskipun ada sejumlah kerusakan di lokasi, Veyskarami memastikan api berhasil dikendalikan dan cadangan bensin Iran cukup. Asap kebakaran menyelimuti ibu kota Iran semalaman, menciptakan kabut gelap dan bau terbakar yang masih tercium oleh warga saat pagi tiba.
Pabrik Desalinasi Air Juga Jadi Target
Sebelum insiden minyak, militer AS juga menyerang pabrik desalinasi di Pulau Qeshm, Iran, yang berfungsi mengubah air laut menjadi air minum. Aljazeera (Sabtu, 7/3) melaporkan bahwa tindakan AS ini dikecam Abbas Araghchi sebagai ‘kejahatan terang-terangan dan putus asa’. Akibat serangan itu, pasokan air untuk 30 desa di Iran terganggu. Araghchi menegaskan, "Menyerang infrastruktur Iran adalah langkah berbahaya dengan konsekuensi serius. AS yang menetapkan preseden ini, bukan Iran."
Iran Balas Serang, Bahrain Terdampak
Iran tidak tinggal diam. Sebagai balasan, Teheran menargetkan pangkalan militer AS di Bahrain. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengonfirmasi sirene serangan udara berbunyi dan mengimbau warga untuk tetap tenang serta mencari perlindungan. Serangan drone Iran juga merusak pabrik desalinasi air di Bahrain dan melukai sejumlah warga akibat puing rudal yang berjatuhan.
"Agresi Iran secara acak membom target sipil dan menyebabkan kerusakan material pada pabrik desalinasi air setelah serangan oleh drone," kata Kementerian Dalam Negeri Bahrain dalam pernyataan yang dilansir AFP. Selain itu, tiga orang terluka dan sebuah gedung universitas di daerah Muharraq, Bahrain, rusak akibat pecahan rudal Iran yang jatuh. Serangan ini dilakukan Iran setelah Teheran sebelumnya menuduh AS menyerang salah satu pabrik desalinasi miliknya sendiri dari pangkalan di Bahrain.
Eskalasi konflik yang menargetkan infrastruktur sipil vital ini menandai babak baru yang berbahaya dalam ketegangan di Timur Tengah, dengan potensi dampak kemanusiaan dan ekonomi yang luas bagi seluruh kawasan.

