Dilansir Internationalmedia.co.id – News, Pemerintah Tiongkok telah menyuarakan kekhawatiran mendalam bahwa intervensi militer pimpinan Amerika Serikat terhadap Iran berpotensi besar mendestabilisasi kawasan Asia Barat secara gegabah, mendorongnya menuju serangkaian konsekuensi yang tak terduga dan mengerikan. Menurut laporan media Iran, Press TV, pada Kamis (29/1/2026), Duta Besar Tiongkok untuk PBB, Fu Cong, menyampaikan pandangan ini dalam sesi Dewan Keamanan PBB pada Rabu (28/1) waktu setempat.
Dalam pidatonya yang penuh penekanan, Dubes Fu Cong menyoroti bahwa situasi di sekitar Iran kini menjadi sorotan global, seiring dengan semakin intensifnya ancaman perang dan meningkatnya ketegangan di tingkat regional. Ia dengan tegas memperingatkan bahwa "perilaku militer yang gegabah akan memiliki konsekuensi yang mengerikan." Lebih lanjut, Fu Cong menegaskan bahwa "penggunaan kekerasan tidak akan pernah dapat menyelesaikan masalah. Setiap tindakan petualangan militer hanya akan mendorong kawasan ini ke jurang ketidakpastian yang lebih dalam."

Menyikapi eskalasi ini, Fu Cong mendesak Washington dan para sekutunya untuk menghentikan tindakan yang justru memperburuk krisis. "Tiongkok berharap Amerika Serikat dan pihak-pihak terkait lainnya akan mendengarkan seruan komunitas internasional serta negara-negara regional, untuk melakukan lebih banyak hal yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, serta menghindari memperburuk ketegangan dan menambah bahan bakar ke dalam api," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dubes Tiongkok itu juga menekankan pentingnya menghormati hak kedaulatan Iran. Ia menegaskan bahwa masa depan negara tersebut sepenuhnya harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri, tanpa campur tangan eksternal. Beijing, tambahnya, secara konsisten mendukung stabilitas, kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Iran.
Mengulangi posisi prinsipil Tiongkok mengenai hukum internasional, Fu Cong menyerukan kepada semua pihak untuk mematuhi tujuan dan prinsip Piagam PBB. "Kami menentang campur tangan dalam urusan internal negara lain, dan menolak penggunaan atau ancaman kekerasan dalam hubungan internasional," ujarnya. Ia juga secara tegas menolak upaya untuk mengubah Asia Barat menjadi arena perebutan kekuasaan eksternal, menekankan bahwa kawasan tersebut adalah milik rakyatnya sendiri dan tidak boleh dikorbankan demi permainan geopolitik oleh pihak luar.

