Data mengerikan datang dari Jalur Gaza. Internationalmedia.co.id melaporkan, Program Pangan Dunia (WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan fakta pilu: hampir sepertiga penduduk Gaza mengalami kelaparan akut, bahkan tidak makan selama berhari-hari. Krisis kemanusiaan di wilayah konflik ini telah mencapai titik nadir yang mengkhawatirkan.
WFP, dalam pernyataan resminya, menyebut situasi ini sebagai "tingkat keputusasaan yang baru dan mencengangkan". Organisasi bantuan pangan tersebut sebelumnya telah memperingatkan risiko kelaparan kritis di Gaza, yang terus dilanda perang sejak Oktober 2023. Angka yang disampaikan WFP sungguh memprihatinkan: hampir 470.000 jiwa terancam bencana kelaparan—kategori paling parah dalam klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu PBB—antara Mei dan September 2025. Lebih lanjut, WFP menyatakan bahwa 90.000 perempuan dan anak-anak sangat membutuhkan perawatan gizi.

Ironisnya, bantuan pangan menjadi satu-satunya akses makanan bagi sebagian besar warga Gaza, karena harga pangan melambung tinggi. "Banyak orang sekarat karena kurangnya bantuan kemanusiaan," tegas WFP dalam pernyataannya. Lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan lain turut menyuarakan keprihatinan atas peningkatan drastis angka anak-anak yang mengalami kekurangan gizi di Gaza, yang diblokade Israel sejak Maret 2025.
Israel, yang dituduh sebagai pihak yang bertanggung jawab atas krisis ini, membantah keras tuduhan tersebut. Juru bicara pemerintah Israel, David Mencer, menyalahkan Hamas atas krisis kemanusiaan ini, mengatakan bahwa kelangkaan pangan disebabkan oleh tindakan Hamas, bukan karena tindakan Israel. Namun, pernyataan ini dibantah oleh 111 organisasi kemanusiaan dan HAM yang menyatakan bahwa kelaparan massal sedang melanda Gaza. Bahkan, Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut kelaparan massal di Gaza sebagai "buatan manusia".
Tragedi ini semakin diperparah dengan serangan udara dan tembakan pasukan Israel pada Sabtu (26/7) dini hari, yang menewaskan sedikitnya 25 warga Palestina. Yang lebih menyayat hati, sebagian besar korban tewas saat menunggu bantuan kemanusiaan di dekat perlintasan perbatasan Zikim. Saksi mata melaporkan ribuan orang berkumpul di area tersebut untuk menunggu distribusi bantuan. Insiden ini menambah derita warga Gaza yang tengah berjuang melawan kelaparan dan konflik.

