Internationalmedia.co.id melaporkan pernyataan mengejutkan dari Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini. Melalui akun X miliknya, Lazzarini menyatakan bahwa rencana pengiriman bantuan lewat udara ke Jalur Gaza tak akan mampu mengatasi krisis kelaparan yang kian memburuk. Menurutnya, metode ini justru mahal, tidak efisien, dan berpotensi membahayakan nyawa warga sipil yang kelaparan. Lazzarini bahkan menyebut krisis pangan di Gaza sebagai bencana buatan manusia.
Pernyataan ini muncul setelah seorang pejabat Israel menginformasikan kepada internationalmedia.co.id bahwa pengiriman bantuan akan segera dilanjutkan, dilakukan oleh Uni Emirat Arab dan Yordania. Ironisnya, sementara bantuan dijanjikan, situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk. LSM internasional telah memperingatkan peningkatan tajam kasus malnutrisi anak-anak.

Lazzarini mendesak agar pengepungan Gaza dicabut, akses dibuka, dan jaminan keamanan serta akses yang layak diberikan bagi warga yang membutuhkan. Ia menyoroti berbagai titik masuk yang berada di bawah kendali Israel yang mengatur akses ke Gaza. Blokade total terhadap masuknya bantuan ke Gaza diberlakukan Israel sejak 2 Maret lalu setelah negosiasi perpanjangan gencatan senjata gagal. Meskipun Israel mengklaim telah mengizinkan sedikit bantuan masuk sejak akhir Mei, PBB dan LSM di lapangan tetap mengecam kelangkaan parah yang dialami 2,4 juta penduduk Gaza, meliputi kekurangan makanan, air bersih, obat-obatan, dan bahan bakar. Pihak militer Israel sendiri membantah membatasi jumlah truk yang masuk, dan menuduh organisasi kemanusiaan dan PBB tidak mengambil bantuan yang telah tersedia. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas bantuan dan siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas krisis kemanusiaan yang terjadi.

