Internationalmedia.co.id – News – Ibu kota Lebanon, Beirut, kembali menjadi saksi bisu eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Israel melancarkan serangkaian serangan udara intensif. Gempuran yang secara terang-terangan menargetkan basis kelompok Hizbullah ini, ironisnya, juga dilaporkan merenggut nyawa seorang pejabat senior Hamas di Lebanon, menandai babak baru dalam ketegangan regional.
Menurut laporan kantor berita Lebanon, National News Agency (NNA), pada Kamis pagi waktu setempat, beberapa lokasi di Lebanon menjadi sasaran. Dua serangan di antaranya menghantam benteng Hizbullah di pinggiran selatan Beirut, dengan rekaman AFPTV yang menunjukkan kepulan asap tebal membubung tinggi. Militer Israel mengonfirmasi bahwa pasukannya menyerang "beberapa pusat komando milik organisasi teroris Hizbullah" dan memerintahkan penduduk lokal untuk mengungsi. Tel Aviv menyatakan belum ada laporan langsung mengenai korban jiwa dari serangan ini.

Namun, insiden paling mengejutkan datang dari laporan NNA yang menyebutkan serangan drone Israel sebelum subuh menghantam sebuah apartemen di area Beddawi, kamp pengungsi Palestina dekat Tripoli. Serangan presisi ini menewaskan seorang pejabat senior Hamas, yang diidentifikasi sebagai Wassim Atallah al-Ali, bersama istrinya. Peristiwa ini menjadi pembunuhan terarah pertama yang dilaporkan terhadap seorang pejabat Hamas sejak perang regional pecah pada Sabtu (28/2) lalu, mengindikasikan perluasan target dalam konflik yang semakin memanas.
Selain itu, NNA juga melaporkan adanya serangan drone terpisah di Lebanon bagian selatan yang menewaskan sedikitnya tiga orang, meskipun identitas pelaku belum dapat dipastikan. Serangan udara "musuh" lainnya juga menghantam sebuah rumah di distrik Tyre. Hingga kini, Israel belum secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan-serangan terbaru yang dilaporkan oleh NNA tersebut, menambah spekulasi dan ketidakpastian.
Menyikapi agresi ini, pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, bersumpah untuk melanjutkan pertempuran melawan Israel dan bahkan meningkatkan serangannya. Dalam pidato pertamanya sejak pertempuran terbaru pecah, Qassem mengklaim Hizbullah telah menargetkan posisi Israel hingga ke Tel Aviv dalam setidaknya 15 serangan. "Kita menghadapi agresi… pilihan kita adalah menghadapinya sampai pengorbanan terakhir, dan kita tidak akan menyerah," tegas Qassem, menunjukkan tekad kuat kelompoknya.
Konflik yang terus berkecamuk ini telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang parah. Otoritas Lebanon mengumumkan setidaknya 72 orang tewas, 437 orang luka-luka, dan 83.000 orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka sejak Senin (3/2) waktu setempat. Lebanon sendiri terseret ke dalam pusaran perang di Timur Tengah setelah Hizbullah melancarkan serangan balasan terhadap Israel pada awal Februari, sebagai respons atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

