Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah kelompok Houthi mengisyaratkan kemungkinan penutupan Selat Bab el-Mandeb, sebuah jalur maritim vital yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Ancaman ini muncul di tengah eskalasi militer yang memanas antara Iran, yang didukung Houthi, melawan Amerika Serikat dan Israel. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa langkah ini bisa memicu gejolak global yang signifikan.
Wakil Menteri Informasi dalam pemerintahan Houthi, Mohammed Mansour, mengungkapkan bahwa kelompoknya telah melancarkan serangkaian serangan rudal ke Israel pada Sabtu (28/3) lalu. Ini merupakan respons pertama Houthi yang berbasis di Yaman sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Mansour menegaskan, keterlibatan Houthi adalah bentuk dukungan kepada Iran yang sedang menghadapi "pertempuran besar".

Dalam wawancaranya dengan Televisi Al-Araby, seperti dikutip oleh Anadolu Agency dan Middle East Monitor, Mansour menyatakan, "Kami berkoordinasi erat dengan saudara-saudara kami di Iran, Lebanon, dan Irak." Ia menambahkan bahwa Hizbullah di Lebanon juga telah mengambil langkah serupa sebelumnya. Tujuan utama dari intervensi Houthi ini adalah untuk "meningkatkan tekanan pada Israel dan AS", dengan setiap langkah telah diperhitungkan secara cermat agar efektif. Yaman, menurut Mansour, memikul "tanggung jawab moral, agama, dan kemanusiaan" terhadap sekutunya, dengan aliansi ini utamanya bertujuan untuk mendukung Palestina.
Mansour menegaskan bahwa Houthi memiliki beragam opsi untuk memberikan tekanan terhadap Israel dan AS yang sedang berperang melawan Iran. "Laut Merah, Teluk Aden, dan Bab el-Mandeb akan menjadi beberapa pilihan," ujarnya. Ia juga menekankan pengalaman luas kelompoknya dalam operasi angkatan laut dan darat, seraya menyebut intervensi mereka sebelumnya untuk mendukung Gaza sebagai "salah satu kejutan penting bagi dunia".
Mengenai kemungkinan penutupan Selat Bab el-Mandeb yang strategis atau serangan terhadap kapal yang melintas, Mansour menjelaskan bahwa keputusan ini "bergantung pada eskalasi Israel dan AS, serta persiapan Amerika untuk setiap pergerakan darat". Ia menambahkan bahwa kepemimpinan Yaman mengambil keputusan secara independen, berdasarkan penilaian militer dan politik yang cermat, memastikan setiap langkah diperhitungkan dan efektif.
Ancaman Houthi ini datang setelah Iran sendiri membatasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur perairan vital untuk pasokan energi global, sejak awal Maret lalu. Pembatasan tersebut telah memicu gangguan global, meningkatkan biaya pengiriman, dan mendorong kenaikan harga minyak dunia. Situasi ini menambah kekhawatiran akan stabilitas jalur pelayaran internasional jika Selat Bab el-Mandeb benar-benar ditutup, berpotensi menciptakan krisis ekonomi dan geopolitik yang lebih luas.

