Internationalmedia.co.id melaporkan, Amerika Serikat (AS) secara mengejutkan menarik diri dari perundingan gencatan senjata di Gaza yang berlangsung di Qatar. Keputusan ini diambil setelah AS menilai Hamas tidak bernegosiasi dengan itikad baik. Utusan khusus AS, Steve Witkoff, melalui media sosial X menyatakan kekecewaan atas sikap Hamas yang dinilai menghambat tercapainya kesepakatan.
Perundingan yang melibatkan mediator dari berbagai negara, termasuk AS, telah berlangsung selama lebih dari dua minggu. Upaya untuk menjembatani perbedaan antara Israel dan Hamas dalam hal gencatan senjata dan pembebasan sandera tampaknya menemui jalan buntu. Witkoff menegaskan bahwa meskipun para mediator telah berupaya keras, respon Hamas menunjukkan kurangnya komitmen untuk perdamaian.

Sumber Palestina yang dekat dengan negosiasi mengungkapkan bahwa Hamas mengajukan beberapa amandemen, termasuk revisi klausul bantuan kemanusiaan ke Gaza, penentuan wilayah penarikan pasukan Israel, dan jaminan berakhirnya konflik secara permanen. Namun, usulan tersebut tampaknya tidak memuaskan pihak AS dan Israel.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa negaranya masih berupaya mencapai gencatan senjata, meskipun telah menarik tim negosiasinya dari Doha. Netanyahu juga menuding Hamas sebagai pihak yang menghambat kesepakatan. Ia menegaskan bahwa Israel tidak akan lemah dalam menghadapi tuntutan Hamas.
Situasi kemanusiaan di Gaza semakin mengkhawatirkan. Lebih dari dua juta warga Palestina menghadapi krisis kemanusiaan yang parah, dengan ancaman kelaparan massal semakin nyata. Langkah AS menarik diri dari perundingan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan negosiasi dan nasib warga Gaza. Apakah upaya perdamaian akan benar-benar kandas?

