Washington – Amerika Serikat (AS) secara tegas mendesak Iran untuk mengakui kekalahan dalam konflik yang berkecamuk di Timur Tengah, sembari memperingatkan Teheran tentang konsekuensi yang jauh lebih berat jika menolak kesepakatan damai. Gedung Putih bahkan mengisyaratkan bahwa Presiden Donald Trump siap untuk "melepaskan neraka" jika Iran tidak mengubah sikap. Informasi ini dilaporkan oleh Internationalmedia.co.id – News pada Kamis (26/3/2026), menyoroti eskalasi ketegangan yang signifikan.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam pernyataannya yang dilansir kantor berita AFP, menegaskan bahwa jika Iran gagal menerima realitas kekalahan militer mereka dan terus berkeras, "Presiden Trump akan memastikan mereka dipukul lebih keras daripada sebelumnya." Leavitt tidak main-main, menyatakan bahwa Trump siap melancarkan serangan lanjutan yang dahsyat dan meminta Iran untuk tidak melakukan salah perhitungan lagi.

Di tengah ancaman keras tersebut, AS sebenarnya telah mengajukan proposal gencatan senjata. Media terkemuka AS, New York Times (NYT), mengutip dua pejabat Washington yang mengetahui garis besar proposal tersebut, melaporkan bahwa tawaran gencatan senjata 15 poin itu telah disampaikan kepada para pejabat Iran melalui Pakistan. Islamabad sendiri disebut telah menawarkan diri sebagai tuan rumah untuk negosiasi ulang antara Washington dan Teheran.
Meskipun rincian lengkap dari 15 poin rencana gencatan senjata itu belum diungkapkan secara detail kepada publik, laporan televisi Israel, Channel 12, yang mengutip tiga sumber, menyebutkan bahwa AS mengupayakan gencatan senjata selama sebulan untuk membahas rencana tersebut. Laporan media Israel juga mengindikasikan bahwa rencana AS mencakup pembongkaran program nuklir Iran, penghentian dukungan untuk kelompok proksi, serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun, respons dari pemerintah Iran sangat mencemooh tawaran gencatan senjata yang disampaikan pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya pada militer Iran, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, seperti dilansir Associated Press pada Rabu (25/3/2026), menegaskan bahwa AS hanya akan berunding dengan diri mereka sendiri.
Dalam pernyataan video yang ditayangkan oleh televisi pemerintah Iran, Zolfaghari dengan lantang menyatakan, "Kekuatan strategis yang dulu Anda bicarakan, telah berubah menjadi kegagalan strategis." Ia melanjutkan dengan sindiran tajam yang ditujukan kepada AS, "Negara yang mengklaim sebagai negara adidaya global pasti sudah keluar dari kekacauan ini jika memang mampu. Jangan menyamarkan kekalahan Anda sebagai kesepakatan. Era janji-janji kosong Anda telah berakhir."
Penolakan tegas dari Teheran ini mengindikasikan bahwa konflik yang telah berkecamuk sejak akhir Februari lalu kemungkinan besar akan semakin memanas, dengan kedua belah pihak menunjukkan sikap yang tidak akan mundur dari posisi masing-masing.

