Internationalmedia.co.id – News – Pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, kembali menarik perhatian dunia setelah terlihat mendampingi putrinya, Kim Ju Ae, dalam sebuah uji coba sistem peluncur roket ganda. Aksi ini, yang disebut sebagai respons langsung terhadap latihan militer gabungan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat, diklaim sebagai upaya Pyongyang untuk menegaskan kapabilitas nuklirnya.
Menurut laporan Associated Press yang dikutip oleh internationalmedia.co.id, uji coba pada Sabtu (14/3) tersebut disaksikan langsung oleh Kim Jong Un. Media pemerintah Korut, KCNA, menyebut latihan gabungan AS-Korea Selatan sebagai ‘latihan invasi’ yang memprovokasi. Dalam demonstrasi kekuatan tersebut, dua belas peluncur roket ultra-presisi berkaliber 600 mm melancarkan serangan di lepas pantai timur negara itu. Sementara itu, militer Korea Selatan mengonfirmasi deteksi sekitar sepuluh rudal balistik yang diluncurkan dari area ibu kota Korut menuju perairan timur.

KCNA lebih lanjut mengutip pernyataan Kim Jong Un yang menegaskan bahwa latihan ini bertujuan agar ‘musuh’ dalam radius 420 kilometer merasakan ‘ketidaknyamanan’ dan memperoleh ‘pemahaman mendalam tentang kekuatan penghancur senjata nuklir taktis’. Pernyataan ini secara implisit ditujukan kepada Korea Selatan dan kontingen pasukan Amerika Serikat yang ditempatkan di sana.
Menanggapi insiden ini, Dewan Keamanan Nasional Korea Selatan segera mengeluarkan pernyataan yang menyebut peluncuran rudal tersebut sebagai ‘provokasi serius’. Tindakan ini dianggap melanggar tegas resolusi Dewan Keamanan PBB yang secara eksplisit melarang segala bentuk aktivitas balistik oleh Pyongyang.
Dalam sejumlah foto yang dirilis KCNA, terlihat Kim Jong Un bersama putrinya, Kim Ju Ae, yang diperkirakan berusia sekitar 13 tahun, berjalan di dekat truk peluncur berwarna hijau raksasa dan mengamati peluncuran senjata. Kehadiran gadis muda ini dalam berbagai acara kenegaraan penting, termasuk uji coba rudal dan parade militer sejak akhir 2022, telah memicu spekulasi luas di kalangan pengamat internasional. Banyak yang menduga bahwa ia sedang dipersiapkan sebagai calon penerus kekuasaan ayahnya.
Para pakar militer menyoroti bahwa peluncur roket berukuran masif yang dimiliki Korea Utara kini semakin mengaburkan garis pemisah antara sistem artileri konvensional dan rudal balistik. Kemampuan mereka untuk menghasilkan daya dorong mandiri dan dipandu selama peluncuran menjadikannya ancaman yang signifikan. Pyongyang sendiri telah berulang kali menyatakan bahwa beberapa sistem ini dirancang untuk mampu membawa hulu ledak nuklir.
Latihan ‘Freedom Shield’ antara AS dan Korea Selatan, yang merupakan simulasi pos komando berbasis komputer, dijadwalkan berlangsung hingga 19 Maret. Sejarah menunjukkan bahwa Korea Utara secara konsisten merespons latihan semacam ini dengan serangkaian uji coba senjata dan retorika yang penuh ancaman, memperparah ketegangan di Semenanjung Korea.

