Ribuan warga Malaysia menyerbu jalanan Kuala Lumpur pada Sabtu lalu, dalam demonstrasi besar yang menuntut Perdana Menteri Anwar Ibrahim mundur. Internationalmedia.co.id melaporkan, aksi ini merupakan protes terbesar sejak Anwar menjabat pasca pemilu 2022. Para demonstran, yang tergabung dalam partai-partai oposisi, mengecam kegagalan Anwar dalam memenuhi janji reformasi dan mengatasi lonjakan biaya hidup.
Di Lapangan Merdeka, pusat aksi protes, terlihat spanduk-spanduk bertuliskan "Turun Anwar". Salah satu demonstran, Fauzi Mahmud (35), menyatakan kekecewaannya kepada internationalmedia.co.id. "Dia sudah tiga tahun berkuasa, tapi janjinya tak ditepati," ujarnya. Fauzi, seorang insinyur dari Selangor, juga menyoroti kunjungan Anwar ke berbagai negara yang menurutnya belum berdampak pada perbaikan ekonomi rakyat. "Biaya hidup masih tinggi," tegasnya.

Anwar, yang terpilih dengan janji memberantas korupsi dan nepotisme, beberapa hari sebelum demonstrasi mengumumkan sejumlah langkah populis. Diantaranya, bantuan tunai 100 Ringgit (sekitar Rp 387.000) bagi warga berusia 18 tahun ke atas dan subsidi bahan bakar. Langkah ini dinilai para analis sebagai upaya meredam amarah publik.
Namun, survei Merdeka Centre for Opinion Research menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Anwar masih cukup tinggi, mencapai 55 persen. Hal ini dikaitkan dengan stabilitas politik dan kepemimpinan Anwar di ASEAN. Aksi protes ini tetap menjadi indikator kuat ketidakpuasan sebagian besar rakyat Malaysia terhadap kinerja pemerintahan Anwar.

