Jakarta – Internationalmedia.co.id – News melaporkan, ketegangan di perbatasan Thailand dan Kamboja justru memanas kembali pada Sabtu (13/12/2025), beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim kedua negara telah sepakat untuk menghentikan pertempuran. Kamboja menuduh Thailand masih menjatuhkan bom di wilayahnya, sementara Thailand bersikeras melanjutkan operasi militer.
Situasi ini kontras dengan pernyataan Trump yang sebelumnya menelepon Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul. Namun, PM Anutin membantah adanya kesepakatan gencatan senjata. Melalui unggahan Facebook, ia menegaskan, "Thailand akan terus melakukan aksi militer hingga kami merasa tidak ada lagi bahaya dan ancaman terhadap tanah dan rakyat kami."

Eskalasi kekerasan ini telah menelan korban jiwa. Pemerintah Thailand mengonfirmasi empat tentaranya tewas dalam serangan Kamboja pada hari Sabtu. Secara keseluruhan, setidaknya 24 orang telah kehilangan nyawa pekan ini akibat bentrokan, dan sekitar setengah juta penduduk di kedua sisi perbatasan terpaksa mengungsi. Kedua belah pihak saling menyalahkan atas pemicu kembali konflik mematikan ini.
Di tengah gejolak di Asia Tenggara, sejumlah peristiwa internasional lain juga menyita perhatian pembaca Internationalmedia.co.id.
Di Eropa Timur, Pengadilan Rusia pada Jumat (12/12) waktu setempat menjatuhkan hukuman penjara kepada hakim-hakim senior dan kepala jaksa Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Langkah ini merupakan balasan langsung atas surat perintah penangkapan yang dikeluarkan ICC terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin pada tahun 2023, terkait tuduhan deportasi ilegal anak-anak dari wilayah Ukraina yang diduduki. Moskow sebelumnya telah membuka kasus terhadap kepala jaksa ICC, Karim Khan, sebagai respons atas dakwaan tersebut.
Sementara itu, di Myanmar, junta militer menghadapi kecaman setelah serangan udara pada Rabu (10/12) malam menewaskan setidaknya 33 orang di sebuah rumah sakit umum di Mrauk-U, negara bagian Rakhine. Junta membantah menargetkan warga sipil, menyatakan melalui artikel di media Global New Light of Myanmar (GNLM) bahwa korban tewas atau terluka adalah "teroris dan pendukung mereka." Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan yang terjadi di negara tersebut.
