Internationalmedia.co.id – News – Jalur Gaza kembali terjerembap dalam krisis kemanusiaan yang mendalam setelah Badai Byron melanda wilayah tersebut pada Kamis (11/12/2025) waktu setempat. Bencana alam ini memicu banjir bandang di kamp-kamp pengungsian yang sudah padat, merenggut nyawa 12 orang dan menyebabkan kerusakan parah pada puluhan ribu tenda penampungan.
Kantor Media Pemerintah Gaza mengonfirmasi peningkatan jumlah korban jiwa menjadi 12 orang. Kematian ini sebagian besar diakibatkan oleh ambruknya bangunan dan rumah-rumah penduduk yang tak mampu menahan terjangan angin kencang serta luapan banjir. Pernyataan dari otoritas Gaza juga menyebutkan adanya "para martir dan orang hilang" sebagai dampak langsung dari badai yang diperparah oleh runtuhnya struktur bangunan yang sebelumnya telah dibom.

Kerusakan infrastruktur di Gaza dilaporkan sangat masif. Sedikitnya 13 rumah warga dilaporkan runtuh, termasuk di lingkungan al-Karama dan Sheikh Radwan di Kota Gaza. Lebih memprihatinkan lagi, sekitar 27.000 tenda pengungsi mengalami kerusakan parah; sebagian terendam banjir, tersapu arus, atau roboh akibat hantaman angin kencang. Tim pertahanan sipil setempat masih terus berjuang merespons ratusan panggilan darurat dari warga yang terjebak.
Situasi darurat ini semakin diperparuk oleh blokade yang terus diberlakukan oleh tentara Israel, yang menghambat masuknya bantuan kemanusiaan esensial ke tempat-tempat penampungan di Gaza. Organisasi Internasional untuk Imigrasi (IOM) memperingatkan bahwa Badai Byron berpotensi mengganggu kehidupan 795.000 pengungsi di Gaza, yang sebagian besar tinggal di daerah padat penduduk dengan perlindungan yang sangat minim dari ancaman kenaikan permukaan air.
IOM menyatakan bahwa sejak 10 Oktober, mereka telah mengirimkan lebih dari 1 juta barang kebutuhan tempat tinggal, termasuk tenda tahan air, selimut termal, tikar tidur, dan terpal. Namun, pasokan ini dinilai "tidak dapat menahan banjir" yang meluas dan dahsyat. Pembatasan akses juga menghambat masuknya perlengkapan dasar seperti karung pasir, pompa air, dan bahan bangunan, yang sangat krusial untuk memperkuat tempat penampungan dan mengurangi dampak banjir.
Direktur Jenderal IOM, Amy Pope, mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam atas kondisi di Gaza. "Masyarakat di Gaza telah hidup dalam kehilangan dan ketakutan terlalu lama," katanya. "Sekarang, setelah badai ini menerjang daratan kemarin, keluarga-keluarga berusaha melindungi anak-anak mereka dengan apa pun yang mereka miliki. Mereka pantas mendapatkan lebih dari ketidakpastian ini. Mereka pantas mendapatkan keselamatan."
Haitham Aqel, pemimpin tim darurat dan bantuan untuk Dewan Perumahan Palestina, menggambarkan kondisi di lapangan yang memprihatinkan. "Kemarin kami menyaksikan banjir yang meluas, dan dengan infrastruktur yang sudah hancur, curah hujan menyebabkan kerusakan parah," ujarnya. "Kami menggunakan karung pasir untuk membuat drainase, tetapi banyak tempat tidur dan kasur orang rusak karena air masuk melalui tenda yang sudah usang." Kondisi ini menggarisbawahi betapa rapuhnya kehidupan para pengungsi di Gaza di tengah ancaman ganda bencana alam dan konflik yang tak berkesudahan.
