Washington D.C. – Penampilan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di hadapan publik kembali menyedot perhatian, terutama karena adanya plester luka yang terlihat jelas di punggung tangan kanannya. Fenomena yang berulang ini memicu berbagai spekulasi mengenai kondisi kesehatan mantan orang nomor satu di AS tersebut. Menanggapi gelombang pertanyaan, Gedung Putih akhirnya angkat bicara untuk memberikan klarifikasi. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, plester tersebut terlihat dalam beberapa kesempatan penting.
Gambar-gambar yang diabadikan oleh para jurnalis menunjukkan beberapa plester menempel di area punggung tangan kanan Trump. Kehadiran plester-plester ini menjadi sangat kentara ketika ia menghadiri serangkaian acara publik dan pertemuan penting dalam beberapa hari terakhir, memicu rasa ingin tahu masyarakat dan media.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, memberikan penjelasan resmi terkait hal ini. Menurut Leavitt, banyaknya aktivitas jabat tangan yang dilakukan oleh Trump secara terus-menerus menjadi penyebab utama ia harus menggunakan plester pada punggung tangan kanannya.
Penjelasan Leavitt pada Kamis (11/12) ini bukanlah yang pertama. Ia mengulang kembali pernyataan serupa yang pernah disampaikan beberapa bulan sebelumnya, saat Trump, yang kini berusia 79 tahun, terlihat dengan memar di tangan kanannya yang kala itu ditutupi riasan tebal. "Di masa lalu, presiden sungguh terus-menerus melakukan jabat tangan," ucap Leavitt kepada wartawan. "Dia juga mengonsumsi aspirin setiap hari, yang juga telah disebutkan dalam pemeriksaan fisiknya di masa lalu, yang dapat menyebabkan memar yang Anda lihat," tutur Leavitt dalam penjelasannya, seperti dikutip internationalmedia.co.id.
Sebagai presiden tertua yang pernah terpilih dalam sejarah AS, Trump dikenal sangat gigih dalam mempertahankan citra kesehatan pribadinya. Ia kerap membandingkan stamina dan kondisi fisiknya dengan para pendahulunya, termasuk mantan Presiden Joe Biden, yang menurutnya menunjukkan penurunan kemampuan di akhir masa jabatannya.
Bahkan, melalui platform media sosial Truth Social miliknya pada Selasa (9/12) malam, Trump sempat mengunggah pesan panjang yang membela kondisi kesehatannya. Ia bahkan menyebut investigasi media terkait kebugaran fisiknya sebagai "pemberontakan, bahkan mungkin pengkhianatan".
Pada Oktober lalu, Trump juga telah menjalani serangkaian pemeriksaan medis komprehensif, termasuk pemindaian MRI. Dokter kepresidenan saat itu menyatakan bahwa mantan Presiden AS tersebut berada dalam kondisi kesehatan yang "sangat baik".
