Internationalmedia.co.id – Kelompok Hamas menuding Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh atas "eskalasi berbahaya" yang terjadi di Jalur Gaza. Tudingan ini muncul menyusul serangkaian pengeboman mematikan oleh militer Israel yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari seratus orang, bahkan saat gencatan senjata tengah berlangsung.
Hamas menuding bahwa Israel sengaja melakukan sabotase terhadap rencana perdamaian yang sebelumnya digagas oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan tujuan mengakhiri konflik di Gaza. Dalam pernyataan terbarunya, Hamas menegaskan tidak akan membiarkan Israel memaksakan "realitas baru" di Jalur Gaza yang terus menerus dihujani serangan.

"Hamas menegaskan bahwa pendudukan (Israel) bertanggung jawab penuh atas eskalasi berbahaya ini, beserta konsekuensinya di lapangan dan secara politik, dan atas upaya menyabotase rencana Trump dan kesepakatan gencatan senjata," tegas Hamas dalam pernyataan resmi mereka.
Kelompok tersebut kembali menegaskan komitmen penuh mereka terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati. Hamas mendesak para mediator dan penjamin kesepakatan untuk segera mengambil tanggung jawab dan memberikan tekanan kepada Israel agar menghentikan "pembantaian" terhadap warga Palestina.
Menurut laporan dari badan pertahanan sipil Gaza, sedikitnya 104 orang, termasuk puluhan anak-anak dan perempuan, menjadi korban tewas dalam pengeboman Israel pada Selasa malam. Serangan ini terjadi setelah Israel mengumumkan kematian seorang tentaranya akibat penembakan di Rafah, wilayah selatan Jalur Gaza.
Militer Israel mengklaim bahwa pengeboman tersebut menargetkan puluhan militan senior di Jalur Gaza. Menteri Pertahanan Israel, Katz, bahkan mengklaim bahwa "puluhan komandan Hamas telah dinetralisir". Namun, Hamas sebelumnya telah membantah keterlibatan para anggotanya dalam insiden penembakan di Rafah dan menegaskan kembali komitmen mereka terhadap gencatan senjata.
Dalam perkembangan terbaru, militer Israel kembali melancarkan serangan ke Jalur Gaza pada Rabu, dengan target yang diklaim sebagai gudang senjata. Mereka menyatakan bahwa serangan presisi dilakukan terhadap sebuah lokasi di Beit Lahia, wilayah utara Jalur Gaza, yang diduga digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata untuk "serangan teror yang akan segera terjadi".
Militer Israel menegaskan bahwa pasukannya akan terus beroperasi sesuai dengan perjanjian gencatan senjata dan akan terus mengatasi ancaman langsung apa pun. Sementara itu, Otoritas Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza melaporkan bahwa sedikitnya dua warga Palestina tewas dalam serangan terbaru Israel.
