Internationalmedia.co.id – Kisah pilu datang dari para aktivis Global Sumud Flotilla yang baru saja dideportasi oleh Israel. Setelah berupaya mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, mereka justru mengalami perlakuan yang disebut "seperti binatang" selama penahanan.
Armada Global Sumud Flotilla, yang membawa bantuan dan aktivis dari berbagai negara termasuk Greta Thunberg, diblokade oleh Israel. Lebih dari 400 orang ditahan, dan deportasi pun dimulai. Empat aktivis Italia telah dideportasi sebelumnya, disusul 137 aktivis dari 13 negara yang diterbangkan ke Turki.

Paolo Romano, seorang politisi Italia, menceritakan bagaimana kapal mereka dicegat dengan meriam air dan pasukan bersenjata lengkap. "Kami dipaksa berlutut, tengkurap. Jika bergerak, kami dipukul. Mereka menertawakan, menghina, dan memukul kami," ungkapnya. Kekerasan psikologis dan fisik menjadi makanan sehari-hari selama penahanan.
Tak hanya itu, para aktivis juga dipaksa mengaku memasuki Israel secara ilegal, padahal mereka berada di perairan internasional. Di penjara, mereka ditahan tanpa akses keluar dan bahkan tidak diberi air minum. "Mereka membuka pintu di malam hari dan meneriaki kami dengan senjata untuk menakut-nakuti kami," lanjut Romano.
Iylia Balqis, aktivis Malaysia, menambahkan, "Kami diborgol, tidak bisa berjalan, dipaksa berbaring tengkurap, tidak diberi air, dan beberapa tidak diberi obat." Jurnalis Italia, Lorenzo D’Agostino, yang meliput misi ini, menyebut para aktivis "diculik" di perairan internasional. "Perlakuan yang kami terima sangat biadab," ujarnya.
Kementerian Luar Negeri Israel mengonfirmasi deportasi 137 aktivis yang disebut sebagai "provokator armada Hamas-Sumud" ke Turki. Israel menyatakan akan mempercepat deportasi semua aktivis. Kisah ini menjadi sorotan dan memicu kecaman atas perlakuan Israel terhadap para aktivis kemanusiaan.
