Internationalmedia.co.id melaporkan, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyatakan kesiapan Otoritas Palestina untuk mengambil alih pemerintahan Jalur Gaza pascakonflik. Lebih mengejutkan lagi, Abbas membuka peluang kerja sama internasional dalam pengelolaan Gaza. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan Al Arabiya.
Abbas menegaskan, Otoritas Palestina memiliki kapasitas untuk memimpin Gaza, namun tak menutup kemungkinan adanya kemitraan dengan negara-negara Arab atau badan internasional. "Kami siap, dan kami mampu," tegasnya. Ia juga menekankan bahwa Gaza saat ini menghadapi krisis kemanusiaan yang serius, bahkan menyebutnya sebagai "kelaparan nyata." Abbas secara blak-blakan menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berupaya melakukan genosida terhadap rakyat Palestina.

Di tengah konflik yang terus berlanjut, Abbas menyatakan Otoritas Palestina aktif melakukan diplomasi untuk menghentikan kekerasan. Ia menekankan komitmen pada perlawanan damai, seraya mengakui kesulitan dalam bernegosiasi dengan Hamas. "Puluhan kali kami bernegosiasi, namun belum ada kesepakatan," ujarnya. Abbas pun menuntut Hamas mengakui PLO dan komitmen hukumnya, serta menyerukan persatuan nasional Palestina.
Dalam wawancara tersebut, Abbas juga memberikan apresiasi kepada Yordania dan Mesir atas upaya mencegah pengungsian warga Palestina dari Gaza dan Tepi Barat. Pernyataan ini menimbulkan spekulasi baru mengenai masa depan Jalur Gaza dan peran internasional di dalamnya. Langkah selanjutnya Otoritas Palestina pasca pernyataan ini tentu akan menjadi sorotan dunia.

