Imbauan mengejutkan datang dari Jerman. Internationalmedia.co.id melaporkan, pemerintah Jerman mendesak seluruh warganya untuk segera meninggalkan Iran dan menghindari perjalanan ke negara tersebut. Langkah drastis ini diambil menyusul ancaman balasan dari Teheran atas peran Berlin dalam upaya reaktifasi sanksi PBB terhadap program nuklir Iran.
Bersama Inggris dan Prancis, Jerman pada 28 Agustus lalu memulai proses 30 hari untuk mengembalikan sanksi PBB terhadap Iran. Keputusan ini dinilai berpotensi memicu ketegangan, terutama setelah serangan udara Israel dan AS ke fasilitas nuklir Iran beberapa bulan lalu. Kementerian Luar Negeri Jerman menyatakan kekhawatirannya akan dampak potensial dari tindakan balasan Iran terhadap warga negara Jerman. Dalam pernyataan resmi yang dirilis, kementerian tersebut menyebut ancaman dari perwakilan pemerintah Iran tidak bisa diabaikan.

Lebih lanjut, kementerian tersebut juga memperingatkan keterbatasan bantuan konsuler yang dapat diberikan Kedutaan Besar Jerman di Teheran saat ini. Keputusan untuk mengaktifkan kembali sanksi diambil setelah serangkaian negosiasi dengan Iran yang gagal menghasilkan kesepakatan. Ketiga negara Eropa tersebut menilai Iran belum menunjukkan kesiapan untuk mencapai kesepakatan baru.
Jerman, Inggris, dan Prancis menuduh Iran melanggar kesepakatan nuklir 2015 yang bertujuan mencegah pengembangan senjata nuklir Iran. Sementara itu, seorang pejabat senior Iran yang tidak disebutkan namanya menyebut keputusan tersebut ilegal dan disesalkan, namun tetap membuka peluang untuk dialog. Pejabat tersebut menegaskan Iran tidak akan tunduk pada tekanan dan akan melanjutkan diplomasi dengan Eropa. Iran sebelumnya telah memperingatkan akan memberikan respons keras jika sanksi kembali diberlakukan. Ketiga negara Eropa khawatir kehilangan hak prerogatif untuk memberlakukan kembali sanksi pada pertengahan Oktober jika mekanisme tersebut tidak diaktifkan.

