Serangan drone Ukraina di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kursk, Rusia, memicu kebakaran pada Minggu (24/8), seperti dilaporkan Internationalmedia.co.id. Insiden ini terjadi di tengah perayaan kemerdekaan Ukraina dan memanaskan kembali konflik antara kedua negara. Pihak PLTN Kursk menyatakan bahwa drone tersebut meledak saat menghantam fasilitas, menyebabkan kebakaran yang kemudian berhasil dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran. Beruntung, tidak ada korban jiwa dan tingkat radiasi di sekitar PLTN dilaporkan tetap normal.
Namun, dampaknya signifikan. Gubernur Kursk, Alexander Khinshtein, mengecam serangan tersebut sebagai ancaman serius terhadap keselamatan nuklir dan pelanggaran konvensi internasional. PLTN Kursk sendiri melaporkan kerusakan pada transformator tambahan, mengakibatkan penurunan kapasitas operasi unit tiga hingga 50%.

Serangan ini terjadi di tengah peringatan kemerdekaan Ukraina. Presiden Volodymyr Zelensky, dalam pidatonya, menyatakan serangan tersebut sebagai balasan atas diabaikannya seruan perdamaian. Upaya mediasi oleh Presiden AS Donald Trump untuk pertemuan puncak antara Putin dan Zelensky tampaknya menemui jalan buntu.
Konflik antara Rusia dan Ukraina terus berlanjut. Selain serangan di PLTN Kursk, Ukraina juga melancarkan serangan drone terhadap pelabuhan Ust-Luga, menyebabkan kebakaran di terminal bahan bakar milik Novatek. Sebaliknya, Rusia dilaporkan menyerang Ukraina dengan rudal balistik dan drone Shahed, mengakibatkan korban jiwa di wilayah Dnipropetrovsk.
Perang yang telah berlangsung selama tiga setengah tahun ini telah menghancurkan banyak wilayah Ukraina dan memaksa jutaan orang mengungsi. Rusia, yang menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina, termasuk Krimea, menolak seruan gencatan senjata. Pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov yang menyatakan tidak ada rencana pertemuan antara Putin dan Zelensky semakin memperburuk situasi. Peringatan kemerdekaan Ukraina kali ini diwarnai oleh eskalasi konflik dan ketidakpastian masa depan.

