Internationalmedia.co.id melaporkan, truk-truk bantuan akhirnya mulai memasuki Jalur Gaza dari Mesir hari ini. Kejadian ini menyusul pengumuman Israel tentang jeda taktis di beberapa wilayah yang dilanda perang. Media pemerintah Mesir menayangkan rekaman konvoi truk di perbatasan, namun perjalanan bantuan tak semulus yang terlihat.
Truk-truk yang melewati perbatasan Rafah tak bisa langsung masuk Gaza. Kerusakan parah di sisi perbatasan Palestina akibat serangan militer Israel tahun lalu memaksa konvoi memutar beberapa kilometer menuju perbatasan Kerem Shalom (Karam Abu Salem) yang dikuasai Israel. Di sana, truk diperiksa sebelum diizinkan masuk ke Gaza selatan.

Rekaman menunjukkan truk-truk besar berisi karung putih melintasi perbatasan dari sisi Mesir. Beberapa truk berlogo Bulan Sabit Merah Mesir, lainnya berbendera Uni Emirat Arab dengan tulisan "Uni Emirat Arab – Bantuan Kemanusiaan untuk Gaza – Proyek Dukungan Air di Gaza."
Israel mengumumkan jeda harian di beberapa wilayah, antara pukul 10.00 hingga 20.00. Jeda ini hanya berlaku di Al-Mawasi, Deir el-Balah, dan sebagian Kota Gaza, wilayah yang saat ini tidak terdapat operasi militer Israel. Israel mengklaim telah membuka rute aman untuk memfasilitasi bantuan PBB dan lainnya.
Langkah ini diambil di tengah tekanan internasional atas krisis kemanusiaan di Gaza. Israel, UEA, dan Inggris telah mengirimkan bantuan makanan melalui udara, namun pejabat kemanusiaan meragukan efisiensi metode ini. Kepala UNRWA, Philippe Lazzarini, menyebut pengiriman udara mahal, tidak efisien, dan berpotensi membahayakan warga sipil yang kelaparan.
Israel membantah membatasi bantuan dan menuduh beberapa badan PBB gagal mendistribusikan pasokan yang sudah ada di Gaza. Namun, organisasi bantuan internasional menuding militer Israel membatasi akses dan menciptakan kondisi berbahaya di sekitar pusat distribusi. Ironisnya, badan pertahanan sipil Gaza melaporkan lebih dari 50 warga Palestina tewas akibat serangan dan penembakan Israel, beberapa di antaranya saat menunggu bantuan. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang efektifitas dan transparansi bantuan yang diberikan.

